Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Desember 2010

GAMBAR-GAMBAR KECILMU


Hari itu tepat hari selasa di pagi yang cerah. Sambil nyantai dengerin musik dengan segelas kopi hangat ABC mocca,tanpa sengaja kubuka kembali buku agendaku yang sekaligus kujadikan buku cacatan kuliah. Lembar demi lembar kubuka. Di sana kutemukan gambar-gambar kecilmu di antara tulisan-tlisanku yang menyerupai binatang dan manusia dengan bermacam mimik dan ekspresi. Aku tersenyum. 

Masih jelas kuingat saat kau menggambarnya. Kau mengukirnya didahului dengan mata kemudian kepala,mulut lalu badan serta kaki dan tangan. Dari setiap bagian terbentuk dari garis serta lingkaran-lingkaran kecil. Aku bingung saat mellihat awal kau menggambar,namun akhirnya aku tersenyum setelah gambar itu selesai dan memperlihatkan kepadaku. Gambar-gambar itu lucu dengan berbagai macam ekspresi.

“Kau masih kecil,namun telah dapat dan mampu mengekspresikan apa yang ada dalam fikiranmu. Kau mampu mengajak adrenalinmu berpetualang dan menyatakan apa yang kau temukan dalam bentuk gambar-gambar kecil ukiran jari-jari kecilmu pula,lucu.” Gumamku dalam hati,tersenyum menatap gambar-gambar itu.

Jauh di sana di kampung halamanku kau berangkat tuk datang ke tempat kediamanku di sini di kota Daeng, hanya sekedar menjengukku dan melepas kepenatan yang mungkin sempat kau rasakan. Bersama Ibu kau pun kini bersamaku. Namun segala yang kau fikirkan tentang kehidupan ini,sungguh jauh berbeda dengan apa yang kau rasakan di sana,di kampungmu dan kampungku. Rasa penat dan membosankan menyeruak dalam dirimu. Tak mudah kau temui titik-titik embun di pagi hari,atau pun sekedar menghirup udara segar dari pepohonan yang menghijau. Burung-burung pun meringis menyikapi hidupnya. Tapi ituah memang keadaan yang sesungguhnya jika kau merasakanya. 

Baru saja kemarin kau hadirkan bahagia bersamaku di persimpangan hidupku semenjak kau kutinggalkan. Kini kau tinggalkan aku di sini bersama kerinduan ini. Kini kau membuatku merindumu lagi. Waktu yang lama kita berpisah,kutinggal dirimu di kampung halaman bersama wajah mungilmu serta sikap nakalmu yang menggemaskan. Saat itu pun terulang kembali untuk yang kesekian kalinya. Kaulah adikku yang kupunya. Teman mainku sebagai sesama cowok,seakan kau mengerti kenginginanku. Terimakasih Tuhan,kau telah memberiku anugerah yang tak terniai.

Saat kau bersamaku di sini di kota Daeng,masih sempat kita bererita dan bercanda serta bermain-main di atas kasur yang tak lagi empuk dan usang. Masih kudengarkan tawa kecilmu,senyum yang selalu kau tawarkan serta sikapmu,semuanya masih utuh kuingat. Masih sempat pula kita belajar menulis dan menghitung. Ha...kini kau telah jauh dari pandanganku. Kau tinggal lagi diriku yang sepi. Hanya gambar-gambar kecilmu kini yang kau sisakan untukku sebagai penggantimu meski itu tak kau maksudkan,karena kau masih kecil. Belum terlalu mengerti tentang rasa ini.    

Lagu Nike Ardila masih terus melantun di Hp-ku,menambah suasana hati makin menjadi. Rindu dan merindu akan kehadiran sosok mungil,adikku, saat kutulis kisah ini. Gambar-gambar kecilmu kini kuabadikan dalam foto di Hp-ku. Aku selalu berharap waktu akan mempertemukan kita kembali bersama keularga di hari yang akan datang. Biarlah aku tetap di sini menggapai cita-citaku.. Adikku sayang,aku kangen kamu. Adakah kau rasakan kerinduan ini? Hmm...aku tersenyum bila mengingatmu lagi,seakan kau hidup dalam gambar-gambar ini.

Akhirnya kurangkai kata merantai kalimat sekedar menyapamu lewat fikiranku yang berkawalkan imaji dan adrenalin. Kini tulisan itu telah rampung,meskipun tak terlalu layak untuk dikatakan sebagai satu cerita pendek. Namun inilah adanya ungkapan perasaaku terhadapmu,adikku sayang. Semoga di suatu saat nanti aku masih bisa memperihatkan kepadamu tentang tuisan ini di saat semuanya telah mampu kau mengerti.

Untukmu,adikku tersayang,do’aku selalu menyertaimu lewat tangan-Nya. Kau yang terlahir pada 17 agustus semoga dirimu selalu dan tetap berada dalam lindungan-Nya. Semoga hari esok masih hangat menyambut langkahmu. Amieen ya Rabbal alamin..

Senin, 20 Desember 2010

Penghuni Misterius

Di sebuah lorong di Kota Makassar, terletak sebuah rumah yang cukup besar dengan bentuk bangunan yang khas Bugis atau Makassar,entahlah soalnya aku sendiri bukan salah satu suku dari kedua suku tersebut. Jadi aku tidak tau pasti rumah itu bentuknya khas suku apa yang jelas hanya ada dua pilihan,Bugis atau Makassar. Bingung kan,sedangkan aku aja bingung.

Jln. Sukaria 7a No.6/RT:VII/RW:E/Kel.Tamamaung/Kec.Panakukang/Kota Makassar,itulah alamat lengkap rumah tersebut. Rumah itu adalah milik salah seorang warga di kompleks itu yang kemuadian di kontrak oleh pemerintah daerahku.  Yang mana rumah itu dikhususkan sebagai salah satu fasilitas organisasi dengan jangka masa kontrak empat tahun. Rumah itulah yang kemudian di jadikan sebagai ASRAMA PUTRI.

Sejak tahun 2009 lalu, Aku dan beberapa temanku telah dijinkan tinggal di Asrama tersebut  oleh pengurus organisasi, terutama Ketua Umum (KETUM) organisasiku karena berhubung pada saat itu tak ada atau belum ada teman-teman cewek se-organisasi yang mau menempati Asrama tersebut. Asrama itu cukup besar,dengan fasilitas seadanya. Satu kamar mandi yang cukup luas serta tiga ruang kamar tidur yang cukup luas juga. Tak lupa pula ruang tamu yang mampu menampung sekitar belasan orang.

Awalnya tak ada sedikit perasaan aneh yang menyelinap di hati kami diawal ketika menempati rumah tersebut. Namun setelah berjalan beberapa bulan kemudian, perasaan aneh itu mulai muncul dengan hadirnya kejadian-kejadian aneh di rumah terseut  disaat tengah malam,sekitar pukul 01:00 atau 02:00. 

Berawal dari cerita teman se-organisasi atau se-daerah yang awalnya pernah tinggal di rumah itu,menurutnya  pada saat tiba tengah malam akan terdengar suara air di kamar mandi seakan-akan diobok-obok atau bunyi piring dan sendok yang berdentingan. Kemudian suara anak kecil yang tertawa cekikikan. Hii……..! Tapi semua itu kami cuekin alias tak menggubrisnya. Karena bagi kami terutama saya pribadi hal semacam itu tak mungkin ada di kota besar semacam Makassar. Lagian itu mungkin hanya halusinasi temanku tadi,karena dia itu orangnya doyan mabuk-mabukkan. Jadi mungkin saja itu karena efek dari minuman. Mungkin saja….

Hari berganti hari bulan berganti bulan dan kenyataan itu semakin mungkin membenarkan apa kata temanku itu. Suara-suara yang sering didengarnya kamipun mulai sering mendengarnya. Masing-masing dari kami yang berjumalah empat orang mendengar hal-hal yang berbeda. Ada yang mendengar suara air diobok-obok,piring berdenting,tawa anak kecil dan juga seakan-akan ada  seseorang yang mondar-mandir di ruang tamu itu. Hhiiiii….pokoknya aneh dan membuat bulu-bulu merinding. Eiitss…..tunggu dulu,maksudnya bulu kuduk yang merinding.

Setelah kejadian demi kejadian kami simak,malam-malam yang kami lalui selalu di selimuti dengan rasa takut dan ketegangan. Ada-ada saja pikiran yang berkelabat dalam otak teman-temanku. He..he..he..emang aku nggak!? Ya sama dong..!
Samapi di suatu malam tepatnya malam jum’at. Aku tidur sendirian di rumah itu,hanya sebungkus rokok class mild dan segelas kopi yang menjadi temanku dalam mengarungi malam sambil mendengarkan musik di Hp_ku yang sengaja kusetel dengan lagu Ari Lasso. Lagu mengalun menyatu dengan suasana sepi di tengah malam,sekitar jam 01.30.  Malam itu sebenarnya aku berdua dengan salah seorang temanku,sebut saja Sasha. Tapi Sasha sudah nginap tidur di kostnya temannya yang tidak jauh dari Asrama itu. Karena aku kelamaan main di waroeng interner (warnet) jadinya agak telat pulangnya,sekitar jam 12. Si Sasha nggak berani tidur sendirian,namanya juga cewek jadi ya gitu the. 

Oya,aku sebenarnya cowok dan keberadaanku di ASRAMA PUTRI itu bukan mauku,tapi permintaan teman-temanku itu. Karena mereka takut tinggal di kompeks itu,yang katanya di sekelilingnya banyak kost-kost_an cowok, takut ada yang gangguin jadi aku di minta temani mereka tinggal. Ya..kalo uda gini namanya SATPAM alias tukang jaga keamanan. Oke lanjut….
Malam itu aku baru saja selesai makan mie goreng sedap sambil merokok di kamarku,tiba-tiba saja aku mendengar ada suara-suara aneh. Coba kusimak dengan kedua kupingku yang masih normal ini tapi suara itu gaduh,ribut. “Ah..mungkin saja di tetangga sebelah yang lagi begadang”. Gumamku dalam hati. Kembai aku santai dengan alunan musik serta sebatang rokok yang asapnya masih mengepul berkelabat di langit-langit kamarku hendak mencari lubang untuk menyatu dengan udara luar. Tak berapa lama suara-suara itu terdengar lagi,dan ternyata setelah kubuka pintu kamarku yang sedari tadi aku kunci,suara itu berasal dari dapur. Suara-suara itu adalah suara air yang diobok-obok serta piring dan sendok yang berdentingn. Kedua bunyi itu saling bersahut-sahutan,seperti audisi musik akustik gitu. Seteah kutahu kalau ternyata..ternyata suara-suara itu adalah suara misterius yang biasa gentayangan,langsung saja pintu kamarku kukunci  dan berdiam diri sembari mendengarkan kegaduhan di sebelah ruangan itu hingga akhirnya akupun tertidur dan terbangun keesokkan harinya dengan sura pintu di gedor-gedor oleh temanku yang  baru saja kembali dari kost temannya.

Ha…pagi yang cerah dengan warna kilau sang mentari memang sungguh moment yang sealu menggambarkan bahwa sebuah harapan dan impian akan terwujud. Itupun yang merasakannya hanya orang-orang yang pandai mengucap syukur atas nikmat dan karunia-Nya. Tuhan sang pemilik dan pemeihara atas segalanya yang ada di langit dan di bumi.
ASPURI…ya,rumah yang penuh dengan kemisteriusan. Aku teringat lagi satu cerita kakak sepupuku yang baru saja datang dari kampung dan nginap di rumah itu. Hanya semalam ia tidur di kamarku dan paginya ia bilang semalam ada seorang cewek pakai baju warna kuning dengan rambut hitam terurai duduk di atas motor yang sengaja diparkir di dalam rumah itu. Wanita itu duduk sambil mengelus-elus rambut hitamnya dengan mata terus menatapnya sambil senyam senyum gitu. Coba bayangin gimana kalo kamu yang adu pandang ma tu cewek,pasti ngerasa mules. He..he.. belum lagi cerita salah satu temanku cewek yang sama tinggal di rumah itu. Dia orangnya agak sedikit aneh,bukan aneh gimana but bisa melihat hal-hal yang bersifat gaib,seperti mahkus halus gitu. Dialah orangnya yang hampir setiap saat entah itu siang ataupun malam,ada-ada saja yang mampir di pandangannya. Terkadang seorang cewek dengan gayanya yang khas yaitu rambut panjang terurai,trus seorang lelaki berbadan tegap besar hitam lagi. Hiii…. Belum lagi dua anak kecil hanya memakai seperti ceana dalam gitu,kata teman-temanku itu tuyul. Pokoknya buanyak the aneh-anehnya. Yang masih penasaran,dengan senang hati aku persilahkan untuk nginap tidur bareng kami agar tahu kejadian-kejadian seru lainnya.

Kalo menurutku,kayaknya nama ASPURI alias Asrama Putri itu di ganti aja menjadi PONDOK MISTERIUS kan lebih seru gitu,perfect lagi. He..he..he.. Mudah-mudahan yang uda baca cerita ini nggak mules juga..
Thanks for you my friends..

Sabtu, 18 Desember 2010

Pelangiku T'lah Pergi


Untuk pertama kalinya ia berjalan menepi menyusuri jalan dimalam hari menuju ke suatu tempat tanpa seorang teman. Tak seperti hari-hari kemarin. Menikmati indahnya malam berbingkai bintang gemintang bersama belahan jiwanya.
Kaki terus terayun. Melangkah menyusuri tepian jalan mencari suatu jawaban dunia. Tiba-tiba langkahnya terhenti dengan hadirnya suara tanya membuat pikirannya kembali normal yang sedari tadi terus berputar.
“Hai Pan, mau kemana kamu..!?” tanyanya sembari memperhatikan wajah sahabatnya yang terlihat kusut. Pertanyaan itu sia-sia saja tak digubrisnya. Topan tetap diam. Bungkam seribu bahasa, menatap cahaya lampu-lampu jalan yang mengintipnya dari balik dedaunan pohon yang berbaris bagai barusaja mendapat komando. “Kini aku sendiri. Tak ada lagi yang menemaniku mengarungi sang malam seperti hari-hari kemarin. Sudah banyak kepingan hari yang kulewati tanpa petikan suara Fika. Suara yang selalu membuat hatiku bernyanyi, menghadirkan sejuta bahagia. Ris! Kamu nggak di mana keberadaan Fika sekarang. Atau mungkin kamu pernah melihatnya akhir-akhir ini?” ucap Topan memecah suasana setelah mereka sampai pada suatu tempat. “Aku tak tahu Pan, aku juga tak perna lagi melihatnya.” “Lalu ke mana dia, di mana dia sekarang. Sementa aku selalu merindukannya. Tempat ini telah merindukan canda tawanya, begitu pun aku.” Keluhnya sembari memandangi Riska yang duduk di samping kirinya. “Kamu yang sabar ya Pan. Fika pasti akan datang tuk menemuimu. Aku yakin dia juga pasti merindukanmu. Merindukan tempat ini.” Ucap Riska coba menenangkan sahabatnya itu. “Tapi telah lama aku menunggunya dalam balutan kerinduan. Kamu kan tahu Ris, sudah banyak penggalan waktu yang kulewati tanpa dia. Aku ingin menatapnya, menikmati senyumannya, mendengarkan canda tawanya. Aku kangen kamu Fik.” Timpalnya dengan mimik menahan kecewa dan emosi.
Keduanya terdiam. Menunduk larut dalam arus pikiran masing-masing. Suasana menjadi sepi. Keadaan menjadi tenang hanya bisikan-bisikan malam yang terdengar lewat hembusang sang bayu. Keduanya merenung. Nampak wajah keduanya tak lagi berkerut, terutama Topan. Emosinya mulai redah. “Maafkan aku Ris! Aku Khilaf.” Katanya memecah sauna yang hening dengan penuh ketenangan. “Tidak apa-apa ko Pan! Aku ngerti dengan apa yang kamu rasakan.” “Ris! Makasih atas semua bantuanmu. Tapi kelihatannya kamu begitu yakin atas jawabanmu ketika kutanyakan tentang Fika. Kamu nggak apa2 kan!?” “Iya..aku baik2 aja kok! Aku hanya ingin kamu baik2 aja Pan.” Coba meyakinkan lagi sahabatnya. “Aku tak mungkin bercerita sekarang tentang Fika yang sebenarnya ma kamu Pan. Dia sahabatku dan kamu juga sahabatku. Aku tahu kamu sangat mencintai Fika. Tapi belum saatnya untuk aku menceritakan semuanya tentang Fika ma kamu Pan. Untuk saat ini kan kusimpan history ini dalam nuraniku sebagai sahabatku yang pernah kumiliki.” Gumam Riska coba mengintip hatinya. Ia menatap sekilas wajah Topan. Di sana ia temukan sejuta rasa yang berkecamuk yang terbalut dengan ketulusan. Riska menarik nafas yang tidak terlaalu panjang entah yang keberapa kalinya. “Aku heran bercampur bingung dengan perubahan Fika akhir2 ini. Dia tak pernah lagi menghubungiku, membalas sms-ku pun tidak.” Keluhnya dengan wajah cemas dan gelisah.
Fika memang satu-satunya wanita yang dicintainya,selain dari keluarganya. Walau terkadang Fika membuatnya emosi. Namun semua itu hanyalah sebuah canda yang akan berujung tawa dan bahagia. Tempat yang biasa mereka sering bertemu tuk bercengkrama dan membagi sejuta rasa memang agak jauh dari jalanan. Tepat berada di bawah sebuah pohon yang cukup rindang dengan pohon yang sedang2 sehingga dikala sang penerang dunia muncul menampakkan wajahnya yang putih perona, cahayanya hanyalah berupa serpihan-serpihan saja tak seutuhnya menerangi tempat peraduan dua insan itu. Sehingga suasana tampak begitu indah meramu dengan suasana. Disitulah mereka biasa bertemu melepaska kepenatan dalam keseharian dengan membagi dan memberi akan warna warni pelangi dengan lukisan alam yang tak pernah pudar dengan kemerlipanya yang jauh membentuk garis horizon-vertikal.
Fika tak juga datang. Lama Topan menunggu kehadirannya. Pandanganya selalu awas di sekelilingnya dan juga ujung jalan, arah di mana Fika akan muncul. Jarum jam di pergelangan tangannya menunjukkan angka 12 yang berarti malam telah larut, telah lama menjuh dari siang. Topan tetap setia duduk menantikan kehadiran sang pelangi hatinya yang telah lama tak pernah menampakkan warnanya tuk hiasi hatinya yang kian gersang. Suasana kian hening tak ada lagi suara insan yang berkicau hanyalah siulan2 angin yang membisiki telinga, mencumbui menghadirkan dingin yang menusuk tulang. Sementara Riska masih berada di sampingnya. “Pan! Aku balik dulu ya..soalnya ini uda larut malam.” Terdengar suara Riska memecah keheningan. “Oh..iya makasih ya uda temani aku kamu hati-hati di jalan ya!”
Malam kian larut Riska pun telah menghilang di telan malam. Topan masih saja memburu waktu yang terus berjalan. Menanti berharap Fika akan datang di tempat itu. “Mengapa mala mini dan malam2 sebelumnya Fika tak pernah datang menemuiku?. Jangan2 dia sakit atau…………” Tanyanya mengintip hatinya coba mencari jawaban. Malam semakin jauh suasana kian hingar. Hening. Kerinduan mulai terbelenggu dengan hadirnya sejuta tanya. Angin malam mulai meronta membelai suasana, merangkul jiwa yang gunda gulana. Topan kembali melirik jam tangannya, jam itu kembali menatapnaya dengan menunjukkan angka 1. Ia tak menyadari ternyata telah sejam ia di temani keheningan setelah kepergian Riska. Dengan hati masih penuh dengan sejuta tanya..Dirinya pun memutuskun untuk pulang kerumahnya.
Siang itu hari tampak cerah. Mentari tampak ceria dengan menampakkan warna keemasannaya dengan sejuta asa. Namun hati Topan tak secerah dan sedamai hati cosmos. Topan kembali hadir dalam dunia kampus. Seakan semuanya mengucapkan “welcome to campus…..Topan.” Siang itu ada yang tampak aneh dari pandangannya. Dengan suasana tak seperti hari-hari biasanya. Setiap rombongan dan perkumpulan teman2nya seperti sedang membicarakan suatu peristiwa yang menghadirkan sejuta tanya dalam dirinya. Lengkap sudah pertanyaan yang hadir dalam kepala dan dadanya. Topan kian bingung melihat keadaan di sekelilingnya. Ia coba memberanikan diri tuk menyimak pembicaraan teman-temannya. Ada satu kata yang dindengarnya dan taka sing lagi baginya, Fika. Ya ……itu dia Fika. Nama gadis yang selama ini ia risaukan. Bayanngan Fika meronta dalam benaknya. Ia berlari mencari Riska coba menemukan jawaban atas juta tanya dalam dirinya. Topan tahu hanya pada Riskalah ia bisa mendapatkan jawabannya
Ditemuinya Riska yang sedang duduk menyendiri menjauh dari teman2nya di bawah sebuah pohon yang tidak rindang dengan dahan yang berjauhan dengan raut wajah yang seakan menahan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya. “Ris! Apa yang sedang terjadi pada dirimu? Mengapa kamu seperti ini?” “Aku tidak apa-apa Pan! Aku hanya kesal sama teman-teman”. Tanpa ekspresi, menahan gemuruh perasaannya. “Ris, aku mau tanya tapi kamu harus menjawabnya dengan jujur. Sebenarnya ada apa dengan Fika, apa yang telah terjadi dengannya?” Dengan mimik penasaran dibalut kekhawatiran. Namun tak ada jawaban yang terlontar dari bibir sahabatnya itu, Riska tek menggubrisnya hanya air mata yang sibuk mengikuti alur wajahnya mengaliri pipinya. “Mengapa kamu menangis Ris?” tanyanya bertambah bingung ketika melihat manik-manik air mata, bening bagaikan embun yang belum tersentuh tatapan matahari dipelupuk mata sahabatnya itu yang kian merembes memebentuk alur diwajahnya. “Pan,kamu harus sabar ya. Kamu yang sabar”. Dengan suara yang berat sambil terisak-isak. Kata itu membuat hati Topan semakin kalut dengan keadaan yang kini ada didepannya. “Iya,,tapi ada apa? kamu jawab dulu pertanyaan aku”. “Pan,,sebenarnya,,,,,,,,,,,hiks..hiks..hiks…sebenarnya Fika telah meninggal beberapa minggu yang lalu, dia telah meninggalkan kita Pan. Dia tertabrak mobil tak jauh dari tempat kalian biasa bertemu”. Ungkap Riska dengan suara terbata-bata diiringi isakan tangis.
Kicau burung bernyanyi,bersiul tak perduli apa yang terjadi. Sapuan-sapuan sang bayu tetap saja seperti biasa. Topan yang kini terkejut, sama sekali tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan temannya itu. Tubuhnya gemetar, terasa dingin terparah lagi hatinya retak remuk hancur tak berkeping setelah mendengar semuanya tentang Fika, kekasihnya itu. Siang yang cerah itu bagi Topan tak ada lagi warna, yang ada hanyalah kegelapan dan kehampaan semuannya terasa kaku. Tak sanggup hati dan pikirannya menerima semua itu. Tapi apalah daya jika memang sang Khalik telah memggariskan cintanya harus pupus dengan adegan seperti itu, hancur. Dengan ketidak relaan Topan harus menerima cerita cintanya dengan alur dan ending yang tak pernah ia bayangkan. Segalanya seakan petir yang menyambar di siang hari. “Maksudmu……?” Tanyanya dengan mata berkaca-kaca,pearasaan yang berkecamuk berantakan. Namun pertanyaan itu tak mendapat jawaban untuk yang kedua kalinya dari Riska. Hanya tangis yang selalu menyertai pertanyaannya itu. Sementara Riska sibuk menggikuti pertunjukan sebuah kisah di dalam hatinya ditemani linangan air mata melihat seorang sahabat yang paling baik yang pernah ia temui dan ia miliki. Topan melayangkan pandangannya jauh menembus batas cakrawala menyaksikan kepergian sang pelangi yang dulu pernah ada, memberi warna dalam hidupnya. Tak lama kemudian Topan pun melangkahkan kakinya beranjak meninggalkan Riska yang masih tenggelam dalam duka. Hingga teriakan Riska tak digubrisnya. Ia sibuk menyeka air matanya.

Ada Tinta Cinta Dalam Keremangan


Januari awal yang lalu. Dirinya mengawasi sesosok tubuh mungil dibalik keremangan. Di sana ia temukan sesuatu yang baru pada sosok kecil mungil itu,ia terlihat begitu berbeda. Penampilannya kali ini memang berbeda dari biasanya,rambut hitam yang biasanya dikucir,kini dibiarkannya terurai hingga kebahu. Ia begitu cantik dan ayu dengan serpihan-serpihan cahaya rembulan yang membias di rambut hitamnya. Rembulan yang menerawang dibalik potongn-potongan dedaunan.
Kehadiran Rhino pada malam itu sama sekali tidak diketahuinya. Rhino,begitulah ia disapa oleh teman-temannya. Sebenarnya namanya cukup panjang,Rhino Cokro Adiantoro. Tapi mungkin karena agak ribet jadi teman-temannya menyapanya dengan sebutan Rhino,maklum karena dirinya masih keturunan Jawa. Kedua Ortunya masih keturunan Jawa asli jadi layaklah. Malam itu untuk yang kesekian kalinya dirinya menemui sosok hawa pujaan hatinya. Langit begitu indah dengan butiran-butiran kemerlapan yang membentuk vertikal dan horisontal pada dinding-dindingnya. Entah telah berapa lama Rhino memperhatikan pujaan hatintya itu dari sosok gelap yang bersamanya kini; dirinya tetap berdiri. Cukup lama Rhino menerawang sosok itu yang tengah duduk seorang diri di depan rumahnya; taman kecil dengan tanaman bunga yang tertata rapi.
Lautan begitu tenang,cahaya kerlap-kerlip lampu nelayan berjejer berbaris bagaikan sebuah lukisan dinding. Pandangan Tiara jauh,seakan mencari sesuatu yang telah hilang. Tiba-tiba saja Tiara tersentak kaget dari duduknya ketika suara Rhino menggerayangi telinganya memanggil namanya. Nama yang selalu disebut-sebutnya dikala rindu menggerogoti jiwa.
Tiara…” Panggilnya dengan nada rendah.
Dengan mimik terkejud,ia mencoba membalikan tubuh sintalnya menatap dalam gelap coba temukan sosok Rhino,namun semua itu sia-sia saja. Tiara kembali menatap memandangi lautan luas terbentang yang tak pernah merisaukan kehidupan ini. Tak lama kemudian kembali suara Rhino menggerayangi telinganya untuk yang kedua kalinya.
“Tiara..” Dengan suara pelan membisik.
Mendengar ada seberkas suara memanggilnya,ia kembali membalikan tubuh sintalnya itu.  Menatap,mencoba menerawang dalam gelap berusaha menemukan sosok Rhino dengan memondar mandirkan bola matanya yang bening.
“Siapa di sana? Jangan buat aku jadi takut dong..?!” Katanya dengan tetap menerawang.
Rhino tersenyum mendengar perkataannya itu. Sebenarnya Rhino tak bermaksud untuk menakutinya dan ia sama sekali tak menduga kalau Tiara akan jadi takut dengan suaranya dalam gelap.
“Ternyata aku ini menakutkan juga ya, kalau dalam kegelapan ” Gumamnya dalam hati sambil senyam senyum sendiri.
“Ini aku Ra..,Rhino!” Katanya sembari berjalan perlahan mendekati Tiara.
“Ternyata kamu ya No,kamu udah buat aku kaget, ketakutan lagi..” Sambil memukul bahu Rhino dengan sifat manjanya. Dibalasnya Rhino dengan sunggingan bibir dan belaian sayang.
Waktu telah banyak terlewati,setiap tapak meninggalkan kisah tentang mereka. Kini Rhino telah berada di samping Tiara, sang kekasih belahan jiwanya. Mereka saling beradu pandang,setiap hembusan nafas terasa berat seakan sedang terjadi sesuatu dalam diri mereka. Suasana kembali hening. Sorot mata Tiara begitu tajam,penuh arti. Dengan sepasang bola mata yang indah,bening serta bulu mata yang lentik ia terus memandangi Rhino yang kini berada di dekatnya,mungkin hanya dengan beberapa jengkal saja mereka telah menyatu. Terlintas di raut wajahnya yang putih bersih,ketakutan yang sempat dirasakan Tiara telah hilang kian berubah kebahagiaan dengan balutan senyuman yang manis.
Suasana terasa begitu indah dalam temeram cahaya rembulan,setiap helaan dan hembusan nafas mengiringi kepergian sang waktu yang terus mengantar mereka hingga saat ini,Rhino tetap di sampingnya. Jelas Rhino memandanginya. Memandangi senti demi senti raut wajah sesosok hawa yang akan menjadi seorang ibu. Tangan Tiara tenggelam dalam genggaman Rhino,jari jemari mereka saling bertautan,erat. Kepala Tiara dibiarkannya tersandar di bahunya dengan rambut hitamnya terjuntai di dadanya. Sapuan-sapuan lembut di kepala nampak jelas,disetiap sentuhan dan belaian ada nuansa cinta dan kasih sayang. Mereka sempat membugkam beberapa saat,hanya bahasa-bahasa hati yang tercipta disetiap tatapan dan sentuhan. Tiara sama sekali tak bersuara,dirinya sibuk mengikuti alur perasaanya. Tiba-tiba saja keheningan itu memecah dengan petikan suara Tiara yang lembut.
“Rhino,boleh nggak kamu buatin aku sebuah puisi tentang kita?!” Pintanya dengan nada manja sembari menatap wajah kekasihnya itu yang masih tenggelam dalam suasana.
Rhino tersenyum sebentar,terlihat jelas sunggingan bibirnya. Tiara memang gadis yang baik,penyayang,tetapi juga agak manja terhadap orang yang dekat dengannya,apalagi terhadap kedua Ortunya. Mungkin karena dirinya anak bungsu dari tiga bersaudara,apalagi sekarang ia tinggal sendiri karena kedua kakaknya telah menikah. Dengan keadaan Tiara yang seperti itu,Rhino tetap sayang dan cinta kepadanya. Rhino tetap betah bersamanya,dirinya selalu menerima apa yang telah ada dan apa yang akan ada. Setiap manusia itu pada hakikatnya sama-sama ciptaan yang Maha Kuasa,yang meiliki kekurangan dan kelebihan,itulah prinsip hidup Rhino dalam menyikapi sesuatu.
“Boleh,untuk kamu akan aku lakukan,dan untuk puisi akan kucoba.” Tuturnya sambil menganggukkan kepalanya,tersenyum melihat tingkah Tiara.
Di sudut malam di balik keremangan dengan sentuhan-sentuhan cahaya rembulan,Rhino mulai mencoretkan tinta hitam membentuk huruf-huruf kecil di atas kertas diary yang bergaris kecil memanjang.
“Jujur kuakui Tiara, aku tak pandai merangkai kata dalam bait-bait puisi,tapi malam ini aku bagaikan seorang penyair yang hidup dengan seribu kisah dalam kata-kata indah” Gumannya,coba mengintip hati kecilnya.
Dalam keremangan fikirannya melayang,imajinasinya berpetualang bersama cintanya untuk menghadirkan sederet kata,serta melukiskannya di atas secarik kertas. Disetiap garis,coretan tinta ada cinta yang mencair beradu,cinta yang menyatu dalam secarik kertas dan terbenam dalam bait-bait puisi yang hanya dipersembahkan untuk pujaan hatinya,Tiara gadis manja yang tercinta.

Apakah Aku Tak Pantas


Aku memang sungguh mencintainya, aku pun tak ingin kehilangannya. Aku tak pernah tahu mengapa cintaku harus berjalan menyusuri alur yang begitu bendek, begitu singkat hingga berakhir sampai di sini. Aku ingin semuanya seperti dahulu lagi. Kemesraan yang dulu ada kini telah hilang, musnah bersama berlalunya sang waktu. Apa salahku hingga aku mendapatkan penderitaan seperti ini? Apa dosaku hingga dia menghilang, meninggalkan aku yang begitu dalam rasa cintaku.
Ya….Rabb, ke mana harus aku langkahkan kaki ini? Kemana harus kulafadzkan kalimat cinta ini? Haruskah aku melupakannya, atau haruskah aku membencinya..? Tapi tidak Tuhan, karena dia telah mengajarkan kepadaku arti hidup ini. Kuucapkan terimakasih kepada-Mu dan kepadanya karena engkau telah memnpertemukan aku dan dirinya. Karena dia pula aku tahu dan mengerti arti hidup yang sesungguhnya. Dia telah menjadikan aku seperti sekarang ini.
Aku menatap lekat-lekat rangkaian kalimat yang pernah kutulis dengan rapi di dalam buku diaryku. Teman yang telah menjadi bagian dari hidupku. Ya, selalu menemaniku bercerita dan bercanda dikala aku sedih maupun bahagia.
Di ujung jalan di beranda rumahku. Kulirik sebentar tanaman bunga yang indah dengan tertata rapi. Bunga yang tumbuh di dalam pot-pot kecil yang selalu dijaga dan disirami oleh Ibundaku tercinta. Malam gelap berkelabat di depan mataku. Rembesan air hujan yang jatuh dari atas atap rumahku terkadang membias mengenai kakiku yang sengaja kujuntai kelantai.
“Ah….!” Aku mendesah, sekedar menghilangkan kepenatan di kepalaku yang sudah berapa hari ini terisi membuat aku sesak akibat tugas kuliahku yang hampir setiap hari bermukim. Ada-ada saja…!
Hujan belum juga redah. Sudah berapa hari ini Makassar, si kota Angin Mamiri tak pernah sirnah dari hujan. Sepertinya mulai bersaing dengan Bogor, si kota hujan itu.
Udara terasa begitu dingin, kuraih jaketku yang berwarna hitam dengan bis butih di lengannya. Kupakai untuk sekedar menetralisir rasa dingin yang kini mulai menggerogoti tubuh kecilku. Kusulut api sebatang rokok clas mild. Kuhisap dalam-dalam. Perlahan kukeluarkan lama kian terbang lalu terurai.
Pandanganku masih jauh menerawang menembus aura dingin dan sepi yang terbalut gelap. Tak ada seorang teman. Di ujung jalan di depan sebuah warung kecil hanya ada dua orang lelaki setengah baya yang sedang asyik mengobrol dengan sebatang rokok masing-masing ditangan mereka. Kebetulan rumahku lagi kosong. Kedua Orang tuaku sudah hampir dua hari berada di rumah pamanku bersama kedua orang adikku, termasuk si kecil cerewet yang masih berumur empat tahun. Pamanku tinggal di sebuah kota kecil yang terletak di Provinsi Sulawesi Tengah.
Angin meneriakkan dedaunan. Hembusannya terasa menyentuh kulitku yang kini masih duduk terdiam di beranda rumahku. Suasana begitu hening hanya cik-cik percik suara hujan yang terdengar dan alunan lagu Kangen Band yang sengaja kusetel di program pemutar musik di ponselku. Kusandarkan kepalaku di dinding sembari menikmati alunan lagu yang nyaris membuatku terkanduk dalam dudukku.
Ku pandangi sesaat sekelilingku. Tak berapa lama kutegakkan tubuhku, berjalan menuju kamarku. Kupandangi seisi kamarku semuanya terlihat sedikit berantakan . Maklum kalau lagi sendiri nggak ada yang ngurusin.
Rumah terasa sepi. Tak ada lagi suara tawa-tawa kecil dan tangisan kecil memanja. Ya…begitulah suasana rumahku kalau lagi ramai. Mataku sepertinya tak dapat lagi diajak kompromi. Sepertinya tak sabar lagi untuk terlelap dalam dekapan bantal.
“Bruak….!” Tubuhku kujatuhkan di atas kasur empuk. Ponsel yang tadinya kupegang kulempar begitu saja ke sisi tempat tidurku. Kedua tanganku terlentang. Sayup-sayup mataku menatap langit-langit kamar. Kembali hening hanya suara musik dari ponselku yang masih terdengar mengalun. Fikiranku kembali melayang memenuhi seisi ruang kamarku. Aku teringat sepenggal kalimat yang pernah diucapakan oleh seorang penulis Novel yang pernah kubaca. Kalau tidak salah dia bernama Fitri R. Ghozally. Dalam tulisannya dia katakana; kepergiannya adalah sebuah makna terindah, menghadirkan kekuatan maha dahsyat untuk melaju, terbang tinggi seperti elang. Ya….akulah elang yang tengah merajai sang jagad..!. Kalimat itu mencoba membawaku tuk beranjak dari fikiranku. Apa yang harus aku lakukan atas diri dan rasa ini?.
Hari belum juga letih menyambutku. Kembali kutampakkan wajahku di antara hunian orang-orang yang beragam. Sebuah kampus biru yang kudiami seakan menyambutku dengan beragam suara dan dialektika. Tak terkecuali wajah-wajah yang taka sing lagi di mataku. Senyum dan canda tawa kutemui lagi di sana sini. Sudah berapa tahun aku hidup dalam kebelitan berfikir yang terkadang sesak kumenyapanya. Jauh di sana ada kehidupan yang belum tentu kepastiannya untuk masa depan. “Ah…Mahasiswa….!” Terkadang kata-kata itu terlontar dari bibirku. Ya…itulah sebutan untukku dan kawan-kawanku yang sama hidup dalam dunia kampus. Mahasiswa....ya, Mahasiswa. Tapi aku sendiri tidak terlalu yakin ataupun faham dengan nilai yang terkandung di dalamnya untuk mereka yang menyandang kata itu. Karena bagiku kata “Mahasiswa” hanyalah berupa simbolisme atau pelambang yang pada hakikatnya tersirat sebuah tanggung jawab yang diemban. Namun kenyataannya masih banyak dari mereka yang jauh panggang dari api.
Nilai-nilai serta kepribadian yang mereka anut tak lagi seperti apa yang diharapkan sebagai seorang “Mahasiswa”. Aku sendiri tak tahu apa jawaban ataupun alasan yang layak ataupun tepat dikala hadir seberkas pertanyaan .
“Mengapa Mahasiswa itu sikapnya begini dan begitu?”
“Mengapa pula Mahasiswa itu bisa jadi begini dan begitu?” mungkin seperti itu pertanyaan-pertanyaan yang akan merangkul pendengaranku. Tapi tak apalah, itu semua terserah dari siapa yang menganut isme itu. Jawaban apa ataupun alasan apa yang akan mereka hadirkan untuk menepis pertanyaan itu dan mungkin masih banyak lagi sederet pertanyaan seperti itu dan butuh pula beragam jawaban dan alasan yang dapat mengelaknya.
Aku seorang Mahasiswa. Aku tahu betul itu meski masih ada kekurangan dalam mengemban kata itu. Banyak ragam raut, etnis dan warna serta penampilan yang kukenali lewat pergaulanku. Di kampus biru kugantungkan cita-cita dan harapanku. Di sana pula akan kucoba labuhkan diri dan rasa ini, entah pada siapa biarlah waktu yang menjawabnya.
Siang belumlah usai memberikan warna terangnya. Kemarin Makassar seharian diguyur hujan. Sekarang, begitu berani mentari menampilkan kekuasaannya di antara penghuni kota Daeng. Di sini di kota Angin Mamiri hidup tak semudah kita membalikkan telapak tangan. Seperti kata orang-orang, di Jakarta semuanya tak gampang didapat. Begitulah Jakarta kota metropolitan. Namun, tak jauh berbeda dengan Makassar, di tengah teriknya pun masih begitu banyak yang berseliweran. Berlari menjemput impiannya, bersenggolan di antara keringat dan tenaga, bercanda dalam atap-atap harapan di hatinya. Begitulah pemandangan Makassar di antara hiruk pikuknya melodrama yang seringkali membuat orang tergiur untuk menjamahnya.
“Ah…!” Aku membuang nafas. Mataku memandang dengan leluasa. Di lantai tiga kampus, aku duduk. Mataku tertuju pada sebentuk kehidupan di kota yang telah mengizinkanku tuk mengenyam pendidikan dan menimbah pengalaman. Jauh di sana pula pandanganku terhenti pada sosok seorang hawa yang tak pernah kukenali sebelumnya. Seorang gadis yang tengah berjalan bersama empat orang temannya melintasi area parkir, tepat di bawah pohon pelindung. Kecantikan itu tersirat dari garis-garis wajahnya. Senyum yang merekah melukiskan kelembutan bertutur kata. Dedaunan bergoyang seakan sengaja menghalangi pandanganku yang sedari tadi memparhatikan bentuk itu. Siapakah gerangan dirinya.. Perasaanku berkecamuk, jantungku berdegab degub kencang. Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi pada diriku.
“Apakah ini yang dinamakan perasaan pada pandangan pertama?” Bisikku dalam hati. Rasa penasaran beradu dengan rasa ingin memiliki.
Jauh di sana di kampung halamanku, telah pernah kutemukan sebentuk hawa yang cantik, anggun dengan kesederhanaannya, itu dahulu. Di sini, di kota Daeng kutemukan kembali sosok itu dengan penampilan yang berbeda.
“Mungkinkah ini jawaban itu yang telah kunantikan?” kembali aku membisik. Jilbab super besar hingga ke ujung kaki, hanya wajah yang tampak jelas. Lama nian kusiasati hingga akhirnya kutahu dirinya bernama Fatimah. Nama yang cukup indah untuk dilafal dan didengarkan. Ya….Fatimah dengan asal yang jauh pula. Fatimah, seorang muslimah dengan penampilan yang khas sebagai seorang wanita. Jilbab besar serta paras yang menggoda, kulit kuning langsat membuat aku terus bertanya.
Keanggunannya tetap jelas meski tubuhnya terbaluti rajutan ratusan benang hingga menutupinya. Aku hanya dapat menatapi seraut wajah dan jari jemari yang cukup lincah dalam melakukan sesuatu dikala kucuri pandang lewat sudut mata. Fatimah dengan tutur kata yang lembut serta sepasang bola mata yang bening bagai butiran-butiran embun di pagi hari yang belum terjamah sang mentari. Di suatu hari kutahu dirinya bertetangga denganku dalam urutan kelas dan ruangan dengan kepribadian yang tak mudah diterka pula. Namun, yang kutahu Fatima adalah seorang gadis yang cantik. Seorang muslimah dengan kelembutan serta keteguhan iman atas kebesaran sang Khalik pecinta atas segalanya.
Di kala mata ini menggerayangi sosok-sosok yang ada di sekelilingku, terkadang pandanganku terhenti dikala menyentuh sosok itu. Fatimah, muslimah dengan jilbab super besar yang tak pernah bosan membalutinya. Kau adalah gadis misterius yang pernah kutemui dalam hidupku yang kekinian. Dalam tubuh ini ada secuil daging yang selalu membisiki aku bahwa di balik jilbabmu kau menyiratkan pesona yang membuat mata ini, hati ini terus mengagumimu. Kau begitu sempurnah di mataku. Di balik gaunmu tersirat kesucian dan kebeningan hati.
Malam kembali terbentang dengan lembaran hitamnya serta manik-maniknya yang membias. Entah telah berapa banyak kisah antara aku dan Fatimah yang telah terlukis dalam kanvas hatiku. Bersama deretan waktu yang terus membuntutiku hingga kini. Tak pernah hilang jejaknya yang pernah kupijaki dalam mencari lembaran-lembaran cintaku. Aku tak pernah bosan dengan kehadiranmu, penampilanmu, serta tuturmu. Aku ingin hidup seribu tahun lagi kata Chairil Anwar, untuk bisa selalu bertemu dan menatapmu. Mungkin engkau tak pernah tahu bahwa di sudut ruang hidupmu ada titisan Adam yang selalu mengagumimu, yang selalu memujamu, bahkan mengimpikan kehadiranmu, itulah aku. Aku telah jatuh cinta. Sunggingan kedua belah bibirmu, tatapan matamu selalu membangunkanku dari kelapukan ini yang mungkin akan runtuh. Tapi kau hadir dengan pesonamu yang tercipta atas keteguhan iman. Tak mudah kusentuh dinding kalbumu dikala kuingin memilikimu. Akankah kau duduk di sampingku tuk menanyakan tentang diriku? Ataukah sekedar berada di dekatku dalam canda tawa?. Pernah kucoba merangkaikan kata untuk menemukan jawaban atas pertanyaan itu pada dirimu. Namun, apa yang kudapatkan hanyalah mengahdirkan pertanyaan baru bagiku.
Fatimah. Ya….aku teringat dengan sebuah keluarga. Keluarga sang penuntun ummat, Nabi Muhammad SAW. Aku teringat pula kau pernah berkata tentang itu, tentang namamu yang telah dipilih oleh kedua Orang tuamu tuk dititipkan kepadamu. Sepertinya kau begitu faham dengan arti sebuah nama. Kau begitu setia dan mengabadikan nama itu. Bagaikan sesuatu yang yang tak dapat terbayarkan. Ya…memang deretan huruf itu tak satupun dari mereka yang mampu membelinya. Tak seperti bayang-bayang realitas yang selalu melintasi panggung ini dengan pelakonnya yang menggunakan nama tak lagi seperti titipan sang Khalifah, katanya “gaul”. Tapi kau begitu ikhlas dengan sebutan itu. Kau memeliharanya dengan siraman-siraman iman hingga berbunga dalam dirimu dengan sejuta wangi hadirkan pesona.
Wajahmu selalu tersirami air suci. Tubuhmu selalu tersujud terpaku di setiap waktu. Aku tahu itu. kau tak pernah lupa dengan sang Khalik, sang pemilik segalanya. Akupun tahu bahwa diri ini tak seperti dirimu, yang selalu meneteskan air mata dalam sujud patahmu di ujung malam. Semoga kau kan tetap menjadi seorang Fatimah, muslimah dengan pesona yang selalu terbingkai keimanan. “Wanita yang baik akan mendapatkan laki-laki yang baik pula”. Ya…kalimat itu yang kadang terlintas dalam benakku, dan aku yakini akan hal itu disaat kupandangi dirimu. Akupun yakin jauh di sana sang pemilik cinta telah mengutus seorang lelaki untuk menjadi mikikmu, untuk menjdi pendampingmu, dan menjadi Khalifahmu dengan keteguhan iman seperti dirimu. Namu mungkin itu bukanlah diriku. Tapi mengapa Tuhan menciptakan dirimu dan diriku dengan menghadirkan pula perasaan ini? Mengapa juga aku harus dipertemukan denganmu di saat usia ini belum pulih? Di saat diri ini masih terombang ambing?
Senja telah merapat ke dermaganya meninggalkan jejak-jejak siang yang membekas, yang pasti akan menjadi pengalaman berharga bagi siapa pun yang berhasil melewatkan siang hingga malam menjemput. “Ya….Tuhan, apakah aku akan selalu sanggup berada bersamanya, sementara rasa dan hatinya bukan untukku? Dirinya telah pernah berkata kepadaku bahwa jauh di sana di tanah Arab ada seorang lelaki yang selalu dinantikannya, selalu diharapkan kedatangannya. Aku tahu Tuhan, aku harus lebih bersabar menghadapi semua ini, namun aku mohon padamu izinkanlah aku untuk tetap bias bersama gadis ini….” Aku berkata dalam hati. Mataku menatap ke atas memohon keajaiban datang pada kehidupanku.
Malam yang indah dengan Fatimah di sampingku. Langit malam kelam, tapi bintang tetap bercahaya begitu pula dengan Fatimah. Wajahnya tetap teduh, bercahaya tak pernah redup sekalipun gelapnya malam ada bersamanya. Aku pun begitu adanya seolah menantang pada langit malam, sepasang mataku menatap tajam pada bintang, sesekali kumencuri pandang pada gadis yang selama ini terpatri dalam hatiku dikala kududuk di sampingnya.
Langit mulai kelam. Fatimah tetap memandangi langit, bintang-bintang tetap cantik dalam kelamnya sang malam. Kutatap dirinya dalam tatapan yang teduh. Fatimah tidak pernah tahu bahwa di balik tatapanku yang teduh itu ada segudang pengharapan. Fatimah tidak pernah mengetahuinya, karena hati dan rasanya hanya ditujukan untuk seseorang yang kini masih berada di tanah Arab.


Remaja Kampus


Hari itu suasana kampus sangat ramai. Sesak oleh mahasiswa dari berbagai daerah yang menuntut ilmu. Seperti biasanya para mahasiswa itu mondar mandir,kesana kemari. Ada yang pergi kekantin,keperpustakaan dan adapula yang pergi kegedung rektor. Semuanya terlihat begitu sibuk dengan aktifitas masing-masing,tak ketinggalan juga para dosen yang menjadi pengajar di kampus itu serta para staf kampus. Seakan sebuah pasar yang sesak dengan penjual dan pembeli.
Seperti biasanya Rafly,begitulah sapaan teman-temannya,seorang mahasiswa jurusan sastra kelas tiga B yang setiap jam kosong doyan nongkrong di kantin yang tak jauh dari perpustakaan kampus. Dengan segelas minuman dingin dan sebatang rokok terlihat jelas ditangannya clas mild, ia santai dengan ditemani sebuah buku tentang sastra. Sedang asyiknya Rafly membaca buku,tiba-tiba saja dirinya dikagetkan dengan hadirnya sesosok tubuh yang agak besar di depannya,yang ternyata mahasiswa jurusan sosiologi semester enam.
“Sorry mengganggu,tapi kalau boleh tau kamu jurusan apa?!” Tanyanya penuh selidik sambil melirik buku ditangan Rafly dan merapatkan pantanya di sebuah kursi kecil.
“Ooh,saya jurusan sastra” Jawab Rafly singkaatdengan wajah bingung.
Rafly masih bingung,fikirannya dipenuhi pertanyaan dengan hadirnya mahasiswa dan pertnyaannya itu. Lama mahasiswa itu memperhatikan Rafly dan buku di tangannya. Asap rokok masih mengepul di depan wajah Rafly,terlihat nikmat ia menghisapnya.
“Oo iya,kenalkan nama saya Ardi jurusan sosiologi semester enam.” Ucapnya sembari menyodorkan tangannya pada Rafly dengan maksud memperkenalkan diri.
“Saya Rafly.” Jawabnya sembari menjabat tangan Ardi yang baru dikenalnya itu.
“Raf,kenapa kamu ambil jurusan sastra?!” Tanya Ardi  ingin tahu.
“Ya..karena saya memang suka,doyan dengan yang namanya sastra.” Jawabnya dengan menunjukkan buku sastra yang dibacanya tadi.
Lama mereka berbincang,mengenal satu sama lain dalam kesempatan itu. Cerita mereka terhenti ketika seberkas suara dari seorang mahasiswa memanggil Rafly yang tidak jauh dari tempat mereka berdua,tepat dibelakng Rafly. Bony,itulah nama teman Rafly yang kebetulan satu jurusan dan kelas dengannya,meskipun mereka berbeda asal.
“Raf…! Cepat ke sini dosennya sudah masuk.” Teriak Bony dengan suara agak keras coba meyakinkan.
Rafly yang mendengar panggilan itu,segera meminta pamit  pada Ardi dan membalikkan badannya seraya berjalan berlalu menghampiri Bony.
“Bon,dosennya sudah lama masuk?!” Tanyanya dengan suara pelan.
“Belum,tapi teman-teman semua sudah ada di ruangan.” Jawab Bony menjelaskan.
Tak membuang-buang waktu,mereka pun langsung bergegas menuju ruangan mereka yang kebetulan berada di lantai empat. Kampus mereka memang cukup bagus,gedung-gedungnya tertata rapi dan strategis,gedung-gedungnya menjulang tinggi menjunjung langit. setelah beberapa menit mereka berlari tibalah mereka di depan ruangan,Rafly dan Bony  memperbaiki pakaian mereka yang sempat acak-acakan karena terburu-buru. Tak berapa lama terdengar suara Rafly beri salam.
“Assalamu alaikum….” Ucap Rafly memberi salam.
“Waalaikum salam….” Sahut teman-temannya serentak yang sedari tadi berada di dalam ruangan. Kemudian disusul sebuah salam dai Bony.
Suasana ruangan mulai tenang,hanya beberapa suara saja yang terdengar membisik. Dengan menyiapkan buku panduan mata kuliah hari itu,Rafly dan teman-temannya menyimak sebentar penyampaian dari dosen mereka yang berdiri didepan mereka,tak terkecuali juga Bony. Tak berapa lama proses belajar mengajarpun dimulai dengan metode ceramah,semua mahasiswa yang berada di ruangan itu dengan seksama memperhatikan dan menyimak apa yang yang disampaikan,dijelaskan dosen mereka. Rafly dengan cermat memperhatikan dan menyimak setiap alur penjelasan tanpa menghiraukan di sekelilingnya,begitupun Bony. Setelah berjalan hamper dua jam,kegiatan belajar mengajar itupun berakhir,ditandai dengan mulai terdengarnya kegaduhan dalam ruangan.
Kampus indah itu masih tetap ramai dengan penghuninya yang beragam. Para mahasiswa selalu terlihat lalu lalang,ada yang berjalan menuju gebang mungkin hendak pulang,tapi sedikit juga yang masih tinggal dalam kampus,sepertinya masih banyak hal yang harus dikerjakan. Rafly,Bony serta teman-temannya yang berniat untuk pulang kerumah. Mereka menuju ke tempat parkiran motor yang telah disediakan oleh pihak kampus dan tak letaknya tak jauh dari gedung tempat mereka belajar tadi. Rafly dengan langkah yang santai,sibuk mengambil kunci motornya di dalam tas,sementara Bony mengikutinya dari belakang sambil bercakap-cakap dengan temannya. Tak berapa lama Rafly telah berada di atas motor bututnya sambil memain-mainkan gasnya.
“Bon,kamu langsung pulang atau….?” Tanyanya namun belum selesai ia ngomong Bony langsung menimpalinya.
“Ya ialah…kan aku mau kerja tugas yang diberikan Pak Djoko!” Tuturrnya dengan sedikit ekspresi.
“Kalau gitu kita pulang bareng aja ya Bon?!” Ajaknya pada Bony.
Dengan senang hati,Bony pun langsung menaiki motor Rafly. Setelah Bony beada di atas motor Rafly pun langsung menarik gas motor bututnya itu,hanya dengan beberapa saat mereka telah menghilang dari kampus,yang tertinggal hanyalah gumpalan asap hitam.
Beberapa kendaraan telah terlewati,begitu pula rumah-rumah dan gedung-gedung yang berbaris dengan megahnya,mereka terus melaju menyusuri kehitaman yang memanjang,terkadang membelok. Dalam perjalanan pulang Bony dengan santainya seluasa memandangi  pepohonan yang menhijau,sementara Rafly  dengan pandangan yang waspada dan hati-hati serta tangan yang sibuk mengontrol setir dan gas,dengan terpaan angin karena melaju.
“Bon,kamu mau kerja tugas yang mana?” Tanya Rafly mengintip wajah temanya itu dalam kaca spion.
“Aku mau kerja tugas Bahasa Indonesia yang diberikan oleh Pak Djoko.” Jawabnya tanpa ekspresi.
“Oo…itu,ya ampun aku hampir lupa padahal besok kan waktu terakhir dikumpulkan?!” Ucapnya lagi sambil menempelkan tangan dijidatnya.
“Ya ialah masa kemarin,sudah itu kamu jangan hanya mikirin cewek melulu.” Timpal Bony pada temannya sembari tersenyum.
Ha…ha…ha…mereka berduapun tertawa di atas motor butut.

Cinta Kekuatan Jaringan


Benarkah apa yang aku rasakan,yang aku lihat dan yang aku pikirkan kini adalah fakta. Ataukah ini semua hanyalah sebuah dongeng yang hidup dalam dunia fantasi yang sifatnya fiktif belaka. Tapi yang jelas semuanya begitu perfect hidup dalam duniaku. Aku yang kini berada dalam lingkaran revolusioner terkadang hanyut terbawa arus kehidupan. Seakan aku baru terlahir, ya…kemarin.
Jauh di sana mereka pernah berkata bahwa dunia telah berubah. Semuanya telah tercipta dengan hadirnya suatu revolusi dan mereka berlomba-lomba dalam suatu urban setelah segalanya terpantul dalam nyatanya hidup. Ternyata benar apa kata pepatah bahwa dunia tak selebar daun kelor, mungkin seperti itu. Ya….mungkin saja.
Dalam ketidak pastian pikiranku masih saja jauh melayang berpetualang. Entah dimana dia akan bermukim atau sekedar singgah sebentar aku tak tahu. Idealnya dia terus mendayuh tuk bertanya dan terus bertanya dalam dunianya entah pada siapa itupun aku tak tahu.
Sementara tubuhku masih tetap dalam balutan sinar sedup sebuah bola lampu dalam peraduanku yang aku sendiri tak tahu lagi berapa watt. Dasar aku, tapi ya…begitulah aku. Setiap senti demi senti benda yang kutatap seakan berbalik menatapku. Aku jadi bingung sendiri pada diriku, sebenarnya apa yang telah terjadi pada bentuk ini. Kembali kulirik sebuah Hp yang mungkin layak disebut antik dengan merek Nokia:1110 dengan warna silfer, kusam. Lama kutatap benda antik itu yang kata orang-orang Hp adalah gaya hidup modern, tapi apa benar…emang efek..!? Ha…dasar aku.
Kucoba mengutak atik beberapa digit angka, kalau tidak salah 081 343 811 xxx setelah berjumlah 12 digit kucoba beranikan diri menekan salah satu tombol yang bertuliskan ok. Tenyata connecting dan terdengarlah tuuut…tuut..tut..awas kereta lewat, he..he…bercanda ko! tapi begitulah bunyinya. Tiba-tiba suara itu redup yang terdengar adalah seberkas suara dari seberang sana yang aku sendiri tak pernah tahu dari mana asalnya dan dari siapa. Tapi suara itu terdengar cukup lembut, karna memang itukan suara seorang wanita, kok tahu…!? He..he…
“Hallo…dengan siapa ni…?” begitulah suara itu berucap. Aku sendiri terdiam menyimak suara itu dan dengan perasaan sedikit kawatir kujawab perkatannya itu, jangan sampai kena marah the… “iya hallo…ini dengan Didit.” Kalau boleh tahu ini dengan siapa..?” Sambungku. Kami pun berkenalan dan cerita mengenai diri masing-masing mencoba saling mengenal. Dan akhirnya aku tahu bahwa wanita itu dengan suaranya yang lembut bernama Dewi, dia orangnya baik tinggalnya di bandung. Dia adalah seoang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di kota kembang itu. Btw siapa yang pengen kenalan silahkan aja hubungi di counter terdekat, boleh juga lewat imelnya yaitu silahkan hubungi teman terdekat Anda. He…he…siapa tau aja connec.
Hari-hari telah berlalu. Telah banyak pula kepingan-kepingan waktu yang aku lalui dengan suatu kehidupan baru nuansa baru. Tak lain dan tak bukan menyangkut hubunganku dengan Dewi si pemilik suara lembut yang pernah kukenal. Aku dan Dewi telah menjadi tomodachi. Kami selalu membagi cerita dan berita meskipun itu hanya sebatas kondisi dan hanya lewat sebuh Hp yang nafas hidupnya adalah pulsa dan jaringan. Ya…menurut aku she itu..tapi aku belum tanya para ahli communication siapa tahu beda..! He..he..he…waktu terus merambat menjalari setiap jengkal kehidupan, berputar bagaikan arus di lautan lepas dan mengalir bagaikan sungai nil yang tak kenal kemarau. Selama itu aku semakin dekat dengan si gadis kota kembang meskipun jarak terus membentang namun dirinya telah dekat di hatiku disetiap hembusan nafasku. Cie segitunya kah…!?
Dalam dekapan malam aku kembali teringat apa kata pepatah dunia tak selebar daun kelor. Pikiranku melayang jauh menerawang lewat bingkai-bingkai kecil sang cosmos. Pandanganku kosong. Suara lirih angin malam menghantui ragaku hingga dingin menggerayangiku. Suasana hening terus mencubuiki hingga hadirkan suatu rasa yang sedikit aneh kurasa. Aku teringat akan si lembut dari kota kembang, Dewi. Aku bertanya-tanya dalam hatiku, coba mengusiknya. Apakah kini aku sedang merasakan kerinduan, tapi apakah mungkin..!? “tapi jauh dalam hatiku, jujur kuakui aku jatuh cinta padanya.” Gumamku coba mengintip hati kecilku. Kini aku menjadi gelisah dengan kehadiran bahasa-bahasa perasaanku.
Dalam kegelisahanku kucoba beranikan diri menghubunginya tuk mengungkapkan apa yang tengah kurasakan. Awalnya dirinya sempat kaget dengan apa yang kuungkapkan tapi apalah dikata, aku sendiri tak dapat mendustakannya apalagi memunafikan. Aliran darahku tak dapat membendungnya. Tembok berlin yang perna kucipta telah retak dan runtuh. Akhirnya dirinya pun mengerti akan diriku, akan apa yang ku alami dan kurasakan bahwa segalanya telah tercipta untukku dan untuknya. Kesemuanya itu telah kutemukan di kekinian dan itu bersama Dewi mahasiswi di kota kembang. Pertanyaan cintaku kini terjawab sudah,terciptalah suatu hubungan yang selalu hidup dalam jiwa remaja. Dirinya pun menjadi pacarku,begitupun aku. Watashi wa koibito Dewi san desu mungkin begitulah kalimatnya dalam bahasa jepang. Meskipun ku sadar diriku dan dirinya tak pernah bertemu. Dia yang di di kota kembang sementara aku yang di kota daeng. Namun segalanya itu tak pernah membuat perasaanku terhadapnya minus. Aku selalu berharap diriku menjadi kupu-kupu yang dapat terbang melintasi jiwa-jiwa cosmos hingga kutemukan sosok kembang yang berada di beranda hatiku yang kini sedang mekar dengan sejuta keharuman.
Cintaku kini berwujud dalam bayang-bayang ketidakpastian, karena jarak yang begitu jauh merenggang hanya terjamahkan oleh jaringan entah itu telkomsel atau indosat. Emangnya mau beli pulsa berapa..!? he..he.. Aku yakin bahwa segalanya akan selalu tercipta dengan indah meskipun itu dengan ketidak sempurnaan apabila dilandaskan atas dasar cinta. Karena sesungguhnya Tuhan tidaklah buta dan tuli seperti mumi Fir’aun.

Inikah Cinta..?

Malam itu masih kuinggat jelas adalah malam minggu. Malam belum begitu jauh meninggalkan siang, tepatnya selepas sholat magrib menyambut waktu sholat isyha. Udaranya terasa tidak begitu dingin,seperti malam-malam yang kemarin.  Suasana terasa tenang penuh damai bagai air yang mengalir menyusuri tepian-tepian lembah. Sesekali terdengar riak dan nyanyian alamnya membuat dunia terasa begitu indah dengan segalanya yang telah ada.
Rembulan tak tampak malam itu. Dia menyembunyikan wujudnya di balik awan hitam kelam. Mungkin dia telah bosan dengan penampilnku, ataukah dia bersedih melihat keadaanku. Waktu terus merambat menapaki punggung sang malam dengan penampilannya yang khas. Aku masih saja terdiam membisu diantara derak tapak kaki sang hujan yang menerpa dedaunan serta atap-atap perumahan yang berada di sekelilingku. Angin masih saja berhembus lemah mengiringi perjalan sang hujan bersama pikiranku yang mencoba mengambang menembus cakrawala dalam kelam. Sesekali ia menghembuskan suasana dingin sembari merangkul tubuh kerdilku yang tertutupi sepasang pakaian yang tak mungkin mampu menepis belaian-belaiannya yang mencengram hingga aku menggigil.
Aku tetap sendiri menyepi di beranda rumahku yang cukup sederhana dengan beratapkan daun rumbia serta berdindingkan bambu. Tapi aku selalu betah dan bahagia dengan keadaanku seperti itu. Aku mmerasa srmuanya itu sudah cukup bahkan aku merasa lebih. Aku tak pernah merasa kurang  karena aku punya segalanya, seorang Ibu yang telah melahirkanku, yang selalu merawatku, memperhatikanku, dan tak lupa kasih sayangnya yang tak mampu terbelikan. Seorang Ayah yang tak pernah bosan mencari nafkah untuk keluarganya, dia adalah pahlawanku. Tambah lagi adik-adikku yang baik, lucu, rajin serta penyayang. Begitu pun aku yang selalu sayang pada mereka meskipun mereka sendiri belum terlalu faham akan arti dari sebuah kekeluargaan yang saling sayang menyangi. Ah,,,indahnya hidup ini jika kita mampu memaknainya.
Entah telah sampai di mana,telah sejauh mana perjalananku dalam dunia maya lewat pandanganku yang kosong. Tanpa kusadari ternyata hujan tak lagi turun mungkin ia merasa aku tak menghiraukannya, tetapi rembulan masih enggan menatapku, tak apalah jika memang kau tak ingin bercanda gurau denganku. Aku pun beranjak dari dudukku coba pijakan kakiku di atas dataran tanah halaman rumahku,menyusuri jalanan menuju ke suatu tempat yang penuh kebisingan sekedar menghibur diri. Tak jauh aku melangkah kujumpai mereka yang sedang duduk bercerita yang terkadang tak jelas apa topiknya, tapi mereka terlihat happy and enjoy saja. Haa..inilah hidup…
Mereka adalah teman-temanku. Sekumpulan anak ABG yang ingin mencicipi dunia malam dan bebas. Sebatang rokok terpampang di bibir mereka masing-masing terlihat seakan mereka begitu menikmatinya, padahal disetiap gumpalan asap yang mereka keluarkan dari mulut dan hidung tergambar suatu ancaman akan penyakit dan bahkan kematian. Tapi itulah mereka, teman-temanku yang hidup dalam kebebasan tapi sebenarnya hati mereka baik tak seperti gumpalan asap rokok yang mereka hisap.
Kuhampiri mereka dan merekapun menyambutku dengan senyum dan canda tawa, senang kurasa. Ternyata mereka juga ingin pergi ke tempat yang sama dengan tujuanku, yaitu tempat yang penuh dengan kebisingan. Belum sampai di tempat yang kami tuju, terdengar seberkas suara-suara dari ujung jalan tepat sebuah pertigaan yang tampak gelap tanpa ada penerangan lampu jalan ataupun rumah penduduk di sekitarnya, maklumlah namanya juga sebuah desa. Kamipun berjalan kearah suara itu menghampiri orang-orang yang suaranya sempat kami dengar.  Di ujung jalan itu jarang sekali terlihat orang-orang yang lalu lalang, hanya beberapa saja yang sempat terlihat melintas dan berpapasan dengan rombongan kami. Orang-orang yang sedari tadi sibuk dengan percakapan mereka sesekali terdengar tawa ternyata adalah pasangan-pasangan yang lagi asyik berpacaran dengan penuh kemesraan. Aku dan teman-temanku setelah melihat mereka hanya bisa tertawa kecil karena merasa sedikit aneh menyaksikan ulah dan tingkah mereka.
Aku adalah seorang anak ABG yang dalam dunia percintaan boleh dikatakn belum terlalu mahir seperti apa yang baru aku saksikan. Aku belum terlalu pandai mengerti dan mengartikan soal cinta. Aku belum terlalu mengenal dunia cinta seperti orang lain bahkan mungkin teman-temanku yang telah menikmati bahkan menjadi pelakonnya,yang telah merasakan indahnya suatu kebersamaan dengan seorang wanita pujaan hati (kekasih). Yang kutahu hanyalah kebersamaan di dalam sebuah keluarga kecil, tapi mungkin disuatu ketika aku pun akan tahu tentang hal itu. Tapi ada satu hal yang membuat aku bertanya, apakah mereka telah mengerti akan arti sebuah kata C I N T A yang sesungguhnya,ataukah mereka masih seperti aku yang belum tahu menahu tentang itu?. Aku hanyalah anak desa yang bersekolah di sebuah SMA kelas dua (II). Dunia cinta adalah dunia baru bagiku yang baru memulai melangkahkan kaki yang masih lemah dan polos. Tapi aku adalah seorang ABG yang normal dengan perasaanku. Biarlah waktu yang menjawabnya…
Bersama teman-temanku kucoba menerobos menembus pekatnya gelap malam menuju tempat yang penuh keramaian dan kebisisngan itu. Di sana kutemukan ragam rupa dan gaya tak terkecuali kalangan maupun umur yang ikut berkecimpung di tempat itu untuk sekedar menghibur diri. Masih kuingat jelas malam itu di tempat itu di adakan sebuah pesta yang cukup meriah dengan wajah-wajah yang ceriah pula meskipun musik yang mengiringinya tidak terlalu elite tapi paslah untuk level pedesaan.
Malam yang begitu indah suasana yang happy ditemani dinginya malam yang mulai mencumbui, orang-orang tetap saja sibuk mengikuti alunan nada music yang disajikan oleh operatornya dan juga terutama keluarga yang mengadakan pesta. Mereka asyik berjoged dengan gaya yang khas pula, goyangan badan seakan menarik perhatian untuk disaksikan tapi bukanlah sebuah pertunjukan yang telah direncanakan. Seakan malam tak berujung seperti kata pepatah “malam minggu adalah malam yang panjang”. Langitpun terlihat begitu cerah, sang matahari malam telah menampakkan wajahnya dengan senyumanya yang khas pula. Sementara di sekelilingnya ia hadirkan manik-manik yang begitu indah mengguggah hati ingin memiliki, dialah karya sang Khalik yang tak ternilai. Mata beretemu mata saat berpandangan antara satu sama lain. Aku masih tetap diam mematung menikmati irama yang mengalun mengoda hati serta mereka yang asyik begoyang. Orang-orang terlihat berhimpitan berjoged dengan pasangan masing-masing, hanya pandangan yang mampu menerobos masuk berada di antara mereka. Mata terus berkeliaran menatap apa yang dapat di lihat dan tidak sedikit rupa yang dapat disaksikan. Dengan tak sengaja dan tanpa rencana sebelumnya pandanganku terpojok pada satu sosok hawa yang pernah kulihat, pernah terlintas di pandanganku pada waktu yang lampau tapi aku tak mengenalnya. Tapi wajah itu tak asing lagi di bagiku. Mungkin sang Khalik yang telah merencanakan di setiap gerak dan gerik ciptaannya untuk bertemu dan saling mengenal satu sama lain.
Seorang gadis kecil yang sebaya denganku. Disetiap tatapannya mengundang pertanyaan dalam hati di balik kebisuan. Rambutnya yang lurus terurai hingga ke bahu menambah ke anggunannya. Senyumanya yang manis dan segala yang dimilikinya menambah kecantikannya yang begitu natural (alami). Kesederhanaan itu tergambarkan begitu jelas dengan penampilannya. Dalam diam aku merasa ada sesuatau yang berbeda di dalam diriku setelah kehadiran gadis itu lewat pandanganku yang tak kusengajakan.
“Inikah yang dinamakan perasaan cinta pada pandangan pertama? Tapi cinta itu apa?” aku bertanya-tanya coba mengintip hati kecilku yang sibuk mengamati jantungku yang terus berdetak. Perasaanku semakin meronta dan aku semakin gugup dikala gadis itu berjalan menuju ke arahku. Inilah yang kurasakan, perasaan seorang anak ABG yang baru mulai mengenal akan namanya cinta. Akhirnya dengan perasaan yang semakin kalut kucoba beranikan diri mendekatinya, disaat itu kucoba pula untuk jujur kepadanya akan perasaanku bahwa sesunggunya aku telah jatuh cinta kepadanya meski aku sendiri belum tahu siapa gerangan namanya. Ia pun memberikan satu jawaban yang sungguh aku tak dapat mempercayainya. Apa yang baru saja kudengar seakan tak mungkin. Ia mau menjadi kekasihku, meskipun aku dan dia belum mengenal arti cinta sesungguhnya, tapi begitulah kenyataan yang sempat terjadi malam itu. Kata orang-orang api cinta yang aku nyalakan adalah “cinta monyet”, tapi aku sendiri tak tahu juga apa arti dari cinta monyet itu. Tapi yang kutahu hanyalah pada hakikatnya cinta adalah sebuah perasaan yang timbul dari hati seorang insan yang paling dalam.
Malam itu suasana terasa mulai sepi. Suara tak lagi sebising waktu pertama kali aku datang di tempat itu. Para pelayat pun tinggal beberapa orang saja, mungkin mereka telah disibukkan oleh pujaan hatinya masing-masing. Atau mungkin mereka telah pulang kerumahnya. Teman-temanku pun aku tak tahu lagi di mana mereka bertengger. Malam itu bulan pun masih tersenyum melirikku, dengan cahayanya yang begitu indah. Temeram seakan memamerkan wujudnya kepadaku dan dia. Sepasang insan titisan adam dan hawa yang baru saja dipertemukan oleh cinta. Suasana begitu hening, suara belum juga terdengar di antara kami untuk memulai suatu cerita dalam kisah awal pertemuan dan kebersamaan. Hanyalah tatapan tajam penuh arti dan senyuman kecil malu-malu yang merambati hati kami berdua. Aku dan dia sebenarnya belum begitu saling mengenal antara satu sama lain tapi begitulah dunia cinta, sesuatu hal yang dianggap tak mungkin bisa saja menjadi mungkin. Aku sendiri tak mengerti. Akhirnya kutahu namanya melalui seorang sahabatnya, bahwa gadis kecil nan lugu dengan polesan kesederhanaannya  bernama Diana. Nama yang singkat, tapi sebenarnya namanya panjang tapi itulah nama dalam kesehariannya bila ia disapa dan aku suka nama itu.
Dalam keheningan di sebuah kursi panjang di bawah pohon di samping rumahnya aku tetap membisu begitu pun dirinya. Tiba-tiba saja aku beranikan diri mengucap satu kalimat yang aku sendiri masih merasa canggung..
“Boleh nggak kupegang tanganmu…?”. Itulah kalimat yang pertama kali kuutarakan untuk memulai suatu cerita dalam kisahku. Bibirku terasa bergetar kala kuucap kata itu. Memang cinta itu butuh keberanian untuk memulai suatu langkah perjalanan dalam menempuah masa depan. Diana hanya menggerakkan jari jemarinya sembari tersenyum tersipu malu.
“Apakah ini suatu jawaban untukku?”. Gumamku dengan perasaan yang mulai bergemuruh dengan sejuta praduga yang meronta.
Semua perasaan itu coba kutepis. Kuraih tangannya, terasa dingin saat kusentuh. Jantungku berdegub kencang saat tangan itu bersemayam dalam genggamanku. Aku tersenyum. Betapa bahagianya hatiku saat melihatnya tersenyum padaku. Ada rasa bahagia yang tergambar di garis-garis wajahnya. Ingin rasanya aku berteriak akan kemenanganku. Hooreeeeee… Namun segalanya hanya kuwakilkan dengan senyuman…

Bersambung….

Diakhir Bulan April

Aku mendengar suaramu lewat telfon. Di situlah awal dari permulaan kita bertemu dan saling mengenal. Aku yang berada di sebuah pulau kecil sementara dirimu berada di sebuah kota yang megah. Dengan bangunan serta gedung-gedung yang menjulang ke angkasa hendak menjunjung langit.
Aku mulai tahu tentang dirimu.Kutahu dirimu adalah seorang pemuda yang memiliki kepribadian dan ciri yang tersendiri. Begitupun aku sebagai seorang wanita yang lemah. Kita telah banyak melewati hari,minggu bahkan bulan. Terkadang kita bercerita melaui telfon dan SMS karena jarak yang merenggang di antara kita. Melintasi perbukitan,gunung dan lautan yang begitu luas. Namun semuanya terasa satu,dekat. Meskipun kenyataanya kita tak pernah bertemu.
Kusadari dirimu telah membuatku merasa nyaman. Ada rasa damai di hati ini. Tersenyum pun kau rangkai dibibirku. Aku tahu itu,aku merasa kita selalau dekat bahkan menyatu disaat kita bercerita berbagi kisah dan pengalaman. Di saat itu pula masih sempat bahkan sering kita becanda. Berbagi luka dan duka serta kebahagian. Akupun enggan tuk tak menggubrismu. Karena kutahu dirimu adalah pria yang baik.
Tak ada lagi waktu untuk tak ingin bersama dirimu. Meskipun itu hanya sekedar mendengar suaramu saja. Aku ingin itu. Karena semenjak aku mengenalmu hingga sampai saat ini aku meresa ada sesuatu yang baru. Sesuatu yang hadir dalam duniaku. Ada rasa yang tumbuh jauh di dalam kalbuku. Aku sadari akan hal itu bahwa aku telah mulai menyukaimu. Dialektika serta sikapmu yang selalu kau suguhkan untukku seakan menyirami hatiku. Hingga aku tersadar bahwa hati ini ingin bersamamu. Akupun sempat berharap-harap seperti itu.  
Hingga disuatu ketika kau mulai membicarakan hal itu. Disaat kita sedang bercerita melalui telfon.
“Icha…ngomong-ngomong,kamu uda punya pacar belum..?”
“Belum. Emangnya kenapa..?”
“Nda..!! Cuma pengen tahu aja”
Kemudian kita berdua sempat diam sejenak. Aku tak tahu apa yang sempat kau fikirkan serta apa yang ada dalam fikiranmu.
“Kalau memang ada yang ingin kamu omongin,bicara aja sekarang. Mumpung kamu masih bercerita dengan aku..”
“Eee….kamu mau nda jadi pacarku..?” 
“Kamu serius..? Kamu tidak jadikan aku ini tempat pelarian.?”
“Kamu bukan tempat pelarianku. Aku serius Cha.. Kamu mau nda..?”
“Iya aku mau..”
Betapa bahagianya hatiku disaat itu. Yang ternyata apa yang kurasakan dirimu juga rasakan. Bahagia itu meluap di dadaku hingga rasa sesak itu menghimpitku. Tak dapat kuungkap lagi dengan kata-kata apa yang kurasakan disaat itu. Mulai saat itu kau dan aku sepakat untuk menjalin suatu hubungan yang special. Suatu hubungan yang lebih dari sebagai seorang teman.
Hubungan kita terus berjalan hingga makan bulan. Sekiranya menjelang delapan bulan. Sampai akhirnya kaupun tiba waktunya untuk melaksanakan salah satu tugas bagian akhir dari kuliahmu,yaitu PKL disuatu daerah. Aku berharap-harap cemas akan keadaanmu. Karena untuk sementara kita tak dapat berhubungan melalui Hp disebabkan jaringan yang tidak begitu mendukung. Hingga akhirnya kaupun meminta aku untuk mengirimkan fotoku padamu. Dengan alasan agar nanti ketika kita bertemu disaat kau datang ke daerahku kau tak merasa canggung.
Hari minggu. Tepat dihari itu aku mengirimkan fotoku. Dengan harapan semoga dirimu merasa semakin dekat denganku. Setelah aku mengirimkan fotoku kaupun menelfonku.
“Icha..fotonya sudah aku terima..maksih ya..”
“Iya..gimana,kaget kan melihat wajahku..?”
“Nda..cuma ada yang ingin aku katakan ma kamu. Tapi kamu jangan marah ya.”
“Apa..? Bilang aja pokoknya apapun yang akan kamu katakana aku akan dengar,aku akan terima meskipun itu sakit”
“Cha..kita berteman saja ya. Sebenarnya aku tu sudah bertunangan. Waktu aku PKL,aku sempat pulang di kampung dalam rangka tunangan. Maafkan aku ya”
“Nda apa-apa…Aku ngerti kok!”
Betapa sakitnya hatiku disaat itu setelah kudengar dan kutahu yang sebenarnya. Seakan hidupku tak ada artinya lagi. Apa yang selama ini kuimpikan akhirnya mengahdirkan rasa sakit yang teramat pedih. Selama hampir delapan bulan ternyata hubungan kita kau pupuk dengan racun yang amat sangat efeknya. Tapi aku cukup diam dan pasrah menerima takdirku dalam perjalanan cintaku bersama dirimu yang kuanggap pria yang baik. Aku hanya bisa ucapkan terima kasih atas segalanya yang terlah pernah kau berikan kepadaku. Aku hanya bias berharap semoga dirimu bahagia berada di sampinya. Wanita yang telah kau pilih setelah kau jadikan aku tumbal..



…Biarkan angin menghembuskan aroma cinta ini hingga sampai ke roma…




Kamis, 28 Oktober 2010

Di Bawah Kaki Langit Di tepi Bumi

Kemarin kota Makassar diguyur hujan seharian. Belum lagi cucian yang kujemur belum semapat kering. “Ha…..mati aku,kalo begitu mau pake apa kalo ke kampus?” Celotehku sendiri. Hari ini mentari telah menampakkan wajahnya seakan menentang mendung serta hujan yang kemarin sempat membuat orang-orang merasa cemas akan aktifitasnya. Hari ini mereka kembali terliahat dengan kesibukan masing-masing. Berseliweran menjemput mimpi-mimpi mereka. Tak terelakkan oleh panas yang menyengat membakar kulit. Tak peduli keringat yang bercucuran mulai membasahai baju serta seragam yang mereka pakai. Semuanya demi mimpi dan impian.

Hari sudah mulai gelap. Bunyi suara azan bergumandang menggores ruang-ruang kalbuku mengingat akan kebesaran-Nya,terkenang akan dosa-dosaku yang telah kuperbuat. Di ujung jalan di sebuah lorong kecil seorang lelaki tua mengayuh becak tuanya yang tak berpenumpang. Aku tak tahu dari mana ia datang dan mengapa becaknya tak ada yang tumpangi. Aku sempat teringat akan kedua orang tuaku. Pasti mereka tak jauh beda dengan lelaki tua itu. Bekerja setiap hari tak kenal lelah hanya demi buah hatinya,hanya demi cita-cita dan impianku. Nyaris kurasakan ada yang menggenangi mataku dan perlahan membuat penglihatanku buram.

Ya Allah… sungguh sudah terlalu banyak perintahmu yang aku lalaikan,terlalu banyak pantang-Mu yang aku langgar. Ampunilah segala dosa dan khilafku. Kucoba ayunkan langkah kakiku yang lemah menuju sebuah sumur untuk mensucikan diri. Kuhempaskan tubuhku di depan-Nya, berserah dalam sujud dan dzikirku. Sempat kuteteskan air mata. Teringat akan dosaku,aku takut akan azab-Nya.

Seusainya, kurasakan ketenangan dalam diriku. Seakan baru saja kulepaskan beban yang amat berat. Kusandarkan tubuhku di sebuah sofa tua yang tak empuk lagi. Coba kulepaskan kepenatan dalam fikiranku. Mulai aku bercerita dengan teman-temanku,berbagi kisah duka,dan bahagia. Tawa dan bahagia pun tercipta. 
 
Kegaduhan yang sempat hadir ditengah-tengah kami kini mulai menjelma menjadi hening. Ya..karena malam telah larut. Kawatir akan mengganggu ketentraman warga di sekitar tempat tinggalku. Mulai kurasakan rasa ngantuk itu menyelinap di mataku. Pandanganku mulai sayu. Dengan terpaksa kutinggalkan teman-temanku yang lagi asyik ngumpul-ngumpul sambil bercerita. Akupun masuk ke dalam kamarku untuk temani rasa ngantukku menjemput mimpi. Belum sempat kupejamkan mataku,tiba-tiba saja Hp-ku berdering. Kuraih dibalik bantalku,ternyata sebuah panggilan. Kulihat ada satu nama yang terpampang di layar Hp-ku. Satu nama yang tak asing lagi bagiku. 
 
“Hallo…!” Sapaku. Namun tiba-tiba saja langsung dimatikan.
“Ada apa ini,kok langsung dimatikan” Gumamku,heran. Tak lama kemudian Hp-ku kembali bordering. Ternyata sebuah SMS,dan itu dari dia.
“Sorry ya Kak…tadi itu hanya miscall doank. Pengen cek aja apa nomor Kakak aktif atau nggak. Btw uda bobo apa belum?” Begitu kira-kira isi pesannya. Akupun membalasnya dan sempat sampai beberapa kali kami SMS-an sampai akhirnya akupun tidur setelah semuanya tuntas.
“De’..uda dulu ya SMS-annya,aku uda ngantuk ni mau bobo dulu. Baik-baik ya” Begitulah isi pesan terakhirku.

Dia adalah seorang mahasiswi semester awal di kampusku. Adik juniorku sefakultas. Dia jurusan Bahasa Inggris sementara aku jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Aku belum lama mengenalnya dan menjadi kekasihnya. Awal mulanya kami bertemu pada saat kegiatan pesantren untuk mahasiswa baru,dan kebetulan saat itu aku menjadi salah satu panitia pelaksana kegiatan. Di situlah aku dan dia bertemu dan mulai mengenalnya sampai kami menjadi sepasang kekasih. 
 
Dia memiliki saudara kembar jadi terkadang aku salah kaprah. Gimana tidak,wajah mereka seperti kata petah,bagai pinang dibelah dua. Aku dan dia boleh dikatakan jarang bertemu,karena tempat tinggalku jauh dari kampus. Sementara dia juga tinggal bersama pamannya dan rumahnya juga jauh dari tempat tinggalku. Kami bisa bertemu itu ketika di kampus,itupun kalau jadwal kami sama. Tapi bagiku itu bukanlah suatu sekat dinding pemisah. Apapun yang akan terjadi aku tetap ingin bersamanya. Karena kini aku merasa rasa itu semakin menggelembung di dalam hatiku. 
 
Tiba-tiba saja aku tersentak dari tidurku karena dingin yang yang merasuki tubuhku hingga kurasakan sampai ke tulang-tulanggu. Aku mengigil,kutarik selimutku yang sudah berada di ujung kakiku karena tidurku yang seperti kambing jantan. Hendak aku kembali lanjutkan tidurku,tiba-tiba suara lantunan ayat-ayat al-Qur’an kembali terdengar di mesjid. Menandakan waktu sholat subuh telah tiba serta mengawali hariku. Akupun segera bangun dan coba tenangkan diriku. 
 
Tak berapa lama suara azan pun berkumandang. Seperti biasa,segera ku sucikan tubuhku dengan wudhu. Setelah selesai berpakain yang bersih akupun melaksanakan sholat subuh. Bersujud bersimpuh di depan-Nya memohankan ampun atas dosa-dosaku serta dosa kedua orangtuaku. “Rabbigfirli waliwalidaiya warhammuma koma rabbayani sogira…”

Sudah hampir empat bulan kujalani hubunganku bersama adik juniorku itu. Telah banyak cerita serta alur yang kami cipta,tentunya tak lepas dari campur tangan sang pemilik dan pemelihara cinta atas segalanya. Meskipun terkadang ada-ada saja masalah yang harus kami tuntaskan demi merajut kembali benang-benang cinta yang telah kami tenun sebelumnya tuk menjadi jubah kesucian. Namun bagiku,semua itu tak menjadi sekat dinding penghalang untuk tetap bersamanya. Aku ingin hidup seribu tahun lagi,kata Khairil Anwar. Telah banyak pula hari yang terlewati bersama penggalan-penggalan kisah dalam meniti angan. 
 
Terkadang aku dan dia berbagi cerita dan berita melalui jaringan internet,tentunya dengan menggunakan layanan facebook. Hingga kutuliskan satu kalimat di dindingku sebagai status, “aku kan terus menantimu di sini,di bawah kaki langit di tepi bumi agar kau dan aku tetap menyatu tuk menggapai bintang..” Kalimat itu ternyata mengundang teman-teman jaringan facebookku untuk mengomentari dan ada pula yang menyukainya,tak ketinggalan si dia adik juniorku.
“aku akan tetap selalu bersamamu sekalipun kau menantiku di ujung langit..”
Aku pun tersenyum ketika membaca komentarnya..


KumpulBlogger

Template by:

Free Blog Templates