Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Oktober 2010

Terkenang Penuntun Ummat


Keteguhan iman bersemayam dalam bathin
Melakon seperti apa yang disyariatkan Agama
Taat dan patuh hanya kepada-Nya
Sang Khalik pemilik dan pemelihara cinta

Berharap kau abadi di sampingku
Bersama dalam mengarungi bahtera kehidupan
Bersikap dan bertutur ala sang penuntun ummat
Karena dia adalah kekasih Allah

Tak sempat kau sakiti hati ini
Tak pernah kumenangis karena perihnya
Cinta dan kasihmu selalu membaluti bathin ini
Bersujud aku dihadapan-Nya atas ciptaan-Nya
Engkau imamku penuntun jalanku

Tersurat dalam pedoman hidup
Bahwa sepertimu Kalifah terkasih
Tersirat dalam hati nurani
Bahwa engkau adalah lelaki pilihan
Aku selalu merindukanmu…

Aku terkenang penuntun ummat
Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wasallam

Mengapa Aku Yang Terpilih


Berkabut tak menentu arah tujuan
Berharap angin terbangkan cerah
Mendungpun berkelabat menutup mata
Tinggal mimpi yang mengajakku tersenyum

Berlayar aku tak sanggup lagi mendayuh
Berlabuh aku tak sanggup lagi menepi
Biarlah arus membawaku ke sudut bumi
Hingga tak mampu lagi aku kembali

Dilemah aku berharap lama
Sebab yang kuharap hanya khayalan
Mencipta mimpi-mimpi dibuai angan
Akhirnya aku menyepi di balik tebing-tebing

Haruskah kutenggelam di laut merah
Hanya sekedar cicipi asinnya garam
Ataukah rasakan perih luka tersayat
Hanya karena ingin tahu merahnya darah

Pengorbanan yang tak berujung pasti
Hanya hadirkan kepastian yang membayang
Sakitpun tetap kuderita berkesinambungan
Hingga mungkin nafas ini terhenti…

Dalam pasrah yang tak rela
Aku bertanya mengapa harus aku yang terpilih
Hanya untuk merasakan siksa pasungmu
Diatas jeritan tangis deritaku
Andai kau tahu….

Diantara Pilihan

Haruskah aku memilih yang lain
Diantara berjuta warna yang menghias
Tapi….terbaikkah yang kupilih nantinya
Satu dua dan tiga semuanya sama saja
Punya warna yang berbeda
Tak mungkin dia yang terbaik diantaranya
Hanya ketulusan yang mampu memilih
Karena rasa punya dimensi
Biarlah semuanya melakon bagai drama
Aku hanyalah perantara yang tak abadi
Hidup dalam kisah yang tertulis
Disetiap bait dan paragraf telah ditentukan tema
Tak mampu aku mencipta kalimat baru
Biar susah sungguh aku melakon
Debar gemuruh komentar tak kugubris
Karena yang terpilih adalah warnaku
Iklaskan segala apa tercipta
Bukan aku tak peduli atas akhirnya nanti
Tapi biarlah pilihan menentukan
Karena yang baik belum tentu yang indah
Yang indah belum tentu juga yang terbaik

Karena Dia Imamku

Mengapa janji kau ikrarkan
Jika hanya menjadi pemanis bibir
Sumpah pula kau lafazdkan
Kalau semuanya hanya duri yang melilit

Bahagia kau kabulkan janji
Namun itu hanya penuntun niatmu
Terlalu mudah kau taklukkan hasrat
Atau mungkin aku yang rapuh

Terkoyak hati nurani memendam rasa
Bahagia kau tawarkan lagi
Berpaling aku menjerit
Mengingat kau yang berkiblat

Kapan Ka’bah berdiri tegak
Hingga sanggup menahan gejolak angin
Kapan sujudku khusuh mengimani
Melakon sebagai tanggung jawab

Terlalu sungguh kau nista
Hati nuranipun kau pasung membungkam
Sekutu bagimu setan berjubah
Namun diri-Nya tak sanggup kau lawan

Tertawalah menanti waktunya
Semoga malaikat menuntunmu

Dahaga Cinta

Terkasih indah saat bercinta
Cerita indah disetiap penggalan peristiwa
Hadirkan hamparan harapan seakan nyata
Sesak jiwa menyongsong bahagia

Sentuhan jiwa melambungkan angan
Terbang bersama serpihan luka
Hanyutkan gelisah mendahaga rindu
Ingin berucap rasanya malu

Tentukanlah jawaban di antara pilihan-pilihan
Hingga temukan akhir dari permulaan
Jangan mengambang di antara dahaga
Rindu yang tercipta hanya penantian panjang

Sunggingan bibir tinggal bayangan
Serpihan kasih tinggal khayalan
Tinggal kenangan yang jadi sandaran
Indahnya kisah semuanya hanya tipuan

Senyum manis menjelma tangisan pilu
Menahan perih luka tersayat
Berlaripun tak sanggup melangkah
Menantipun terpasung

Waktu Pun Menangis


Dinginya salju masih kurasakan
Siulan angin masih dapat kupastikan
Gambarmu masih jelas kutatap
Namun petikan suaramu telah redup

Pesonamu terlanjur membawaku dalam mimpi
Hingga tak mampu lagi kukembali
Kini kau telah sepi
Tinggal aku yang sendiri menepi

Aku tak pernah tau kau dimana
Andai angin malam dapat berkata
Pasti dia kan bercerita tentangku
Tentang aku yang merindumu

Aku selalu menantimu
Kan kunanti engkau yang di sana
Hingga waktupun menangis
Hingga hariku pun pupus

Bukit Kecil Berbunga


Tersenyum kau kepadaku disaat itu
Belum sirna jua cerita tentang kita
Hari pernah berkisah tentang kau dan aku
Di antara mekar dan harum bunga-bunga

Kini kusaksikan jelas namamu disini
Tertulis indah dalam ukiran jepara
Tegak bersimbol dirimu yang tertidur kini
Dengannya bukit kecil berbunga

Jalan masih tetap sepi menanti
Aroma tak lagi menyengatku
Kau tinggal sebuah nama dan puisi
Alurpun tak dapat kuterima untukmu

Selamat jalan engkau yang diam
Tidurlah dalam damai menemani
Biar hari menemaniku hingga malam
Tetap kuurai cerita yang mendiami hati

Kau selau hidup dikekinian
Meskipun harus demikian…

Di Ujung Jembatan


Ketika kupergi senja itu menjadi saksi yang bisu
Kau menangis dipelukanku
Aku mengerti akan perasaanmu
Rasanya kau tak ingin berpisah denganku

Bayu menerpa helai-helai rambutmu
Kau peluk aku dengan erat, namun apalah dayaku
Kulakun ini semua atas nama cinta
Kutak ingin melihat kau menderita

Biarlah semuanya berakhir disini
Biarlah semua ini kubawa pergi
Biarlah cerita ini kusimpan di hati ini
Kita hanya sampai di ujung jembatan ini

Izinkanlah aku pergi dari duniamu
Biarlah lambaian dan tangismu
Menjadi akhir dari kebersamaan kita
Janganlah aku kau nanti tuk bersama

Aku Seorang Asmar


Pernahkah kau dengar tentangku
Yang hidup di ujung pulau
Tersenyum, menangis dengan duniaku
Tahukah kau tentang itu

Mungkin kau kan bertanya
Siapakah gerangan dirinya
Yang selalu berharap darinya
Mungkin juga mereka

Aku bukanlah Hairil Anwar
Yang hidup dengan berjuta cerita
Aku hanyalah seorang Asmar
Yang hidup dengan terlunta

Mengharap akan sapaanmu
Mengiba dengan tangisku
Akan sunggingan bibirmu
Dalam balutan kelembutanmu

Sadarkah kau, dikala senja
Aku selalu memuja
Hingga sinarku redup
Kau kan tetap hidup

Sabtu, 16 Oktober 2010

Diary 1001 Hari

Aku tak pernah menyangka
Bahwa ini semua kan menjadi suratan
Apa yang dulu pernah kita semai
Akhirnya harus redam, redup, padam

Apa yang pernah kuberi telah kau dustakan
Apa yang kutanam ternyata tak pernah kau sirami
Seakan kutak percaya yang kau ucapkan
Kini aku bagai daun-daun kering tak bernyali

Hanya kegelapan dalam kesunyian selalu menanti
Itu yang selalu mengusikku dalam diam
Kau tinggal aku dalam duka
Terhina pun kau abaikan

Bukan kusesali pertemuan silam
Tapi mengapa harus terlanjur mencintaimu
Hingga kegelapan terus mencumbuiku
Tinggalkan cerita 1001 hari dalam diaryku

Maafkan Aku

Maafkan aku
Andai aku pernah menyakitimu
Andai aku pernah salah padamu
Andai aku pernah mendustaimu

Maafkan aku
Bukan maksud Hati
Aku hanya ingin berbagi
Yang kini tengah Sendiri
Lama menanti hari

Maafkan aku
Aku bukanlah sang Khalik
Aku hanyalah Mahluk
Mungkin kini aku terkutuk

Maafkanlah aku
Andai tak kau maafkan
Kemana lagi harus kuberjalan
Mengadu dan memohon

Lilin Putihku


Kau yang pernah ada
Kita perah bersama
Bersatu dalam tawa dan duka
Engkaulah lilin putihku

Kau pernah tersenyum padaku
Kau pernah menyapaku
Kau pernah bercerita tentangku
Kini kau pergi menjauh dariku

Pernah kucoba mendekati
Pernah kucoba bersamamu lagi
Pernah kucoba menyalakanmu lagi
Semakin kucoba semakin pula kau meredup

Harapan yang pernah ada bersamamu
Kini semuanya hampa melampau
Biarlah aku bersama biasmu
Karna kau bercahaya untukku
Hingga malamku tiba

Bukan Hiasan Dinding

Jauh di sana kusaksikan
Indah megah bertebaran
Seakan menatapiku
Akupun tersenyum

Warna kilau dalam kelam
Membentang berbaris
Membentuk horizontal
Terkadang juga vertikal

Dialah sang bintang malam
Indah dalam kejauhan
Terpampang berbrbingkai
Tapi bukan hiasan dinding

Tak pernah lelah kumenatapnya
Siapakah gerangan pelukisnya
Ingin aku memilikinya
Tak kuasa kumengagumi
Namun sayang tak dapat kubeli

Jumat, 15 Oktober 2010

Pesona Di Balik Jilbabmu


Kau telah tercipta dengan titisan Hawa
Kau hadir dengan gayamu yang sederhana
Kau begitu ceria dengan gaunmu
Mereka pasti mau melirikmu

Senyum yang kau paparkan
Tutur yang kau lantunkan
Sikap yang kau gambarkan
Semuanya kau balut dengan kelembutan

Jiwa yang teduh
Hati yang tak keruh
Kaulah hawa yang enggan menjauh
Akupun tak pernah jenuh

Banyak indah yang kau siratkan
Banyak pesona yang telah Ia ciptakan
Hingga aku takut mengungkapkan
Engkaulah pesona di balik jilbabmu
Yang hidup di ruang-ruang kalbuku

Gadis Di Ujung Malam


Bila malam kau hadir dengan gaun merahmu
Bila siang kau menghilang bak rembulan
Tapi sesungguhnya kaulah rembulan itu
Mengapa selalu kau temani wajah gelap

Di ujung malam kau berdiri
Aku tau maksudmu, kau menanti
Disaat kulewat kau sunggingkan bibirmu
Aku tak pernah tertarik pada dirimu

Sesungguhnya aku menghiba kepadamu
Mengapa kau harus memilih berada di sana
Mengapa kau harus rela menanti di sana
Itukah pilihan atas dirimu

Hidup bukan harus menyiksamu
Tapi mengapa kau rela terlentang
Hidupmu seterang rembulan
Mengapa kau memilih dalam gelapnya rembulan

Aku tahu akan dirimu
Wahai gadis di ujung malam
Yang selalu menghiasi gelapnya dunia malam
Hingga kau pun tak mendapat cahaya itu
Untuk terangi jalanmu

Sajak Di Batas Cakrawala


Aku terdiam dalam sunyi nada-nada petikan suaramu.
Tiada hari tanpa merindumu. Menanti dalam detak jantungku.
Berharap disetiap derap langkahku.

Syair-syair dalam bait puisi-puisi cinta telah banyak kudengarkan melalui jiwa-jiwa yang tersentuh. Melantun mengikuti alur sang bayu. Selalu menyebut namamu,mengiba……
Agnes Monica pernah berkata itu. Seakan mengusikku,meraung,menjerit.
Aku dilema…

Aku berharap selalu 17 Februari akan menjadi cerita yang terindah dalam hidupku. Meski kau berada di ujung cakrawala.

Membumbung tinggi terlampau batas. Kau di situ.
Mungkinkah hujan kan tetap setia pada sang mendung…?
Masihkah bintang kan tetap setia pada jubah hitam sang malam….?
Ataukah Mentari tak lagi bersinar….?
………………………………………………………………………………………
Adaikan sosok ini dapat menmbus batas cakrawala itu kan kugapai jari- jemarimu disaat musim semi. Namun aku bukanlah malaikat yang bersayap hingga kusapu air matamu.

Aku hanyalah musafir yang mengharap setitik air…..yang mungkin masih engkau sisakan.

Adakah kau rasakan jiwa-jiwa ini. Yang kian gelisah mengharap cahayamu. Resah hatiku kan kehadiranmu di S I N I………

Pesan Sang Dalang


Di ujung mata, di ujung sana kusaksikan
Sosok rentah tua keriput, terbungkuk berkeringat
Tanpa hirau terik menyengat kulit, membakar
Bongkahan barang di pundak, becak tua melaju, gerobak dorong

Ya….aku tahu jelas siapa mereka yang berperan itu
Seorang Ayah, Khalifah dalam keluarga
Beratnya barang, beratnya tanggungjawab yang harus dipanggul
Dirasakan bukan lagi sebuah beban
Melainkan sebuah rejeki yang harus diraih
Demi si buah hati

Aku tahu, disetiap tapak yang terpijak
Disetiap tetes keringat yang mengucur
Disetiap hembusan nafas yang terdengar berat
Tersirat sebuah pesan dan harapan

“Nak, cukup Bapakmu yang menjadi begini
Kamu dan adikmu harus sekolah yang tinggi
Agar kelak bisa hidup lebih baik dari Bapak”

Pipit Kecil Terkasih


Hai pipit kecil yang suci
Telah sering kujumpai dirimu
Di ujung jalan khlayak ramai
Berlari, melompat menatapku

Hai pipit kecil yang gembira
Terik maupun hujan kau berkicau
Kau jual yang anggap berharga
Hanya demi seteguk air

Hai pipit kecil yang lembut
Hanya suara dan semangat kau andalkan
Sementara bulumu telah kusut
Tubuhmu pun tak lagi bersih

Hai pipit kecil yang malang
Di manakah engkau bertengger
Sangkarmu tercabik sang gagak
Mengadulah, tapi pada siapa..?

Adakah sang camar melirikmu..?
Adakah sang belibis membelaimu..?
Sang gagak tetap pemangsa
Aku sedih bila memotretmu

Terbang Melayang


Tatap menatap coba temukan sesuatu
Apa yang kulirik seakan cemberut
Ah,,mereka semua pikun terus diam
Satu yang mengusik mengajak berkelana jauh

Sapa menyapa kemudian hilang
Kuajak kembali dia terbang melayang
Kusulut api sebatang filter
Cari mencari yang kucoret

Bersilah, bersandar, berbaring, berimajinasi
Fikiranku terbang melayang jauh berfantasi
Tintaku seirama dengan gumpalan yang berkelabat
Lama kian lalu terurai bersama hening

Hadir satu kisah dalam susah
Datang diam terpatung jadi sejarah
Aku yang menulis karena aku yang tulis
Tak dapat kau tepis aku tak mengemis

Terbang melayang akulah itu
Tidur dalam mimpi terbangun oleh imaji
Lama kian lalu terurai bersama hening

Bulan Di Ranting Kering


Terpana indah kutatapi rembulan bercahaya
Kulafadzkan kalimat-kalimat cinta
Terhadapmu kulabuhkan diri yang hina
Tak bergeming kau turutkan kata hatimu

Dari barat kau berlalu ke ujung timur
Berlari menembus tirai tak berwarna
Terlalu yakin akan kepastian esok harimu
Mungkin hujan dan badai kan terus berarak

Jauh di sana kau tinggalkan sebuah istana
Megah terpandang di atas singgasana
Mengapa mudah kau memilih sangkar tua ini
Di antara jari jemari pencakar langit

Rela kau tinggal di kaki langit yang sepi
Gelap kau diami di antara lembah tak bermusim
Berjalan di antara semak tak berbunga
Terik pun kau payungkan di atas mahkotamu

Wahai engkau rembulan, kau terlalu indah
Kutakut kau terjatuh hingga tersungkur
Bukan aku menyesali apa yang telah tercipta
Karena aku hanyalah ranting kering

KumpulBlogger

Template by:

Free Blog Templates